Siapakah
Fatimah ? Siapakah Zahra?
Putri siapakah Fatimah? Istri siapakah Fatimah?
Apa yang dilakukan Fatimah hingga mencapai kedudukan tinggi?
Fatimah
adalah Al Kautzar.
Ibundanya bernama Khadijah binti Khuwailid bin Asad, binti
Muhammad Rasulullah. Dilahirkan di Makkah, Jumat tanggal 20 Jumadil Akhir.
Aisyah r.a berkata: “Aku tidak melihat adanya seorang pun yang mirip
Rasulullah, baik dalam sifat maupun cara berdiri dan duduknya, kecuali
Fatimah. Apabila Fatimah datang menemui Rasulullah, beliau segera berdiri dan
memegang tangannya, lalu menciumnya dan mendudukannya di majelis.” Rasulullah
Saw bersabda: “Sesungguhnya Fatimah adalah bagian dari diriku. Siapa yang
menyakiti dirinya berarti menyakiti diriku pula”.
Fatimah Az-Zahra tumbuh dalam bimbingan wahyu. Dia seorang yang
cerdas serta sayang kepada ummi dan abahnya. Ibadahnya luar biasa tekunnya,
beliau banyak menderita dalam membela abahnya. Dia dijuluki ayahnya sebagai “Ummu
Abiha” artinya “ibu ayahnya” karena begitu cinta dan sayangnya Rasul saw
kepada Fatimah. Beliau juga digelari Sayyidah Nisa’ Al amin. Suaminya
bernama Ali bin Abi Thalib, sang pahlawan Islam yang gagah perkasa dan
pemberani. Putra putri beliau bernama Hasan, Husain dan Zaenab.
Terkait kebesaran Sayyidah Fatimah az-Zahra, Rasulullah saw
bersabda, "Keimanan kepada Allah SWT melekat dalam hati dan jiwa mendalam
az-Zahra yang mampu menyingkirkan segalanya saat beribadah kepada Allah SWT.
Fatimah adalah bagian dari hati dan jiwaku. Barangsiapa yang menyakitinya sama
halnya ia menyakitiku dan membuat Allah SWT tidak rela." Tak
diragukan lagi, keagungan Sayyidah Fatimah az-Zahra menghantarkannya ke derajat
yang luar biasa di sisi Rasulullah saw. Dalam hadis lain, Rasulullah saw bersabda,
"Putriku yang mulia, Fatimah adalah pemimpin perempuan dunia di seluruh
zaman dan generasi. Ia adalah bidadari berwajah manusia. Setiap kali Fatimah
beribadah di mihrab di hadapan Tuhannya, cahaya wujudnya menyinari malaikat.
Layaknya bintang-gemintang yang bersinar menerangi bumi."
Keutamaan dan keistimewaan yang dimiliki Sayyidah Fatimah bukan
hanya disebabkan ia adalah putri Rasulullah. Apa yang membuat pribadinya
menjadi begitu luhur dan dihormati, lantaran akhlak dan kepribadiannya yang
sangat mulia. Di samping itu, kesempurnaan dan keutamaan yang dimiliki Sayyidah
Zahra mengungkapkan sebuah hakikat bahwa masalah gender bukanlah faktor yang
bisa menghambat seseorang untuk mencapai puncak kesempurnaan. Setiap manusia
(baik laki-laki maupun perempuan) memiliki potensi yang sama untuk meraih
kesempurnaan.
Kepribadian Sayyidah Fatimah yang begitu mulia, baik secara
personal, maupun di lingkungan keluarga dan sosialnya menjadikan dirinya
sebagai manifestasi nyata nilai-nilai Islam. Ia adalah contoh manusia teladan,
seorang istri dan ibu yang penuh pengorbanan. Ia adalah contoh manusia sempurna
yang seluruh wujudnya penuh dengan cinta, iman dan makrifah.
Jiwa dan pribadi Fatimah mengenal konsepsi kehidupan yang paling
luhur di rumah wahyu, di sisi pribadi agung Rasulullah saw. Setiap kali
Rasulullah memperoleh wahyu, dengan penuh seksama Sayyidah Fatimah mendengarkan
ajaran hikmah yang disampaikan oleh sang ayah kepadanya. Sebegitu mendalamnya
cinta kepada Allah dalam diri Fatimah, sampai-sampai tak ada apapun yang
diinginkannya kecuali keridhoan Allah SWT. Ketika Rasulullah saw berkata
kepadanya, "Wahai Fatimah, apapun yang kamu pinta saat ini, katakanlah.
Sebab Malaikat pembawa wahyu tengah berada di sisiku". Namun Fatimah
menjawab, "Kelezatan yang aku peroleh dari berkhidmat kepada Allah,
membuat diriku tak menginginkan apapun kecuali agar aku selalu bisa memandang
keindahan Allah SWT". Sayyidah Fatimah Az-Zahra juga sangat mencintai
al-Quran. Beliau berkata, "Ada tiga hal yang aku cintai di dunia ini yaitu
membaca al-Quran, memandang wajah Rasulullah saw dan berinfak di jalan Allah SWT."
Pada suatu hari, suaminya Ali bin Abi Thalib masuk ke
rumahnya dan mendengar bahwa Sayyidah Fatimah az-Zahra tengah melantunkan ayat
yang baru turun kepada Rasulullah saw. Beliau dengan takjub bertanya,
"Bagaimana kamu bisa mengetahuinya? Sayyidah Fatimah az-Zahra menjawab,
"Putra kita, Hasan, hari ini membacakan ayat yang baru turun pada
Rasulullah saw kepadaku." Sayyidah Fatimah az-Zahra sangat mencintai
ayat-ayat al-Quran. Dalam khutbah yang disampaikan pasca wafatnya Rasulullah saw,
beliau mengkritisi kondisi yang ada dengan pandangan komprehensif yang
bersandarkan pada ayat-ayat al-Quran. Dalam khutbah itu, Sayyidah Fatimah
memperingatkan kepada masyarakat bahaya penyimpangan. Di pembukaan khutbah,
beliau menjelaskan al-Quran dan perannya di tengah kehidupan, dan mengatakan,
"Allah SWT mempersembahkan kepada kalian sebuah ikatan yang kuat. Itu
adalah al-Quran Berbicara. al-Quran adalah kitab kebenaran yang memancarkan
cahaya dan kitab argumentasi yang mengungkap batin (internal) dan dzahir
(eksternal)."
Sayyidah Fatimah az-Zahra dengan jelas menyatakan bahwa
masyarakat, khususnya kalangan cendekia harus memperhatikan kandungan al-Quran
dan sejarah Rasulullah saw sebagai sumber utama hukum dan syariat. Untuk itu,
Sayyidah Fatimah menekankan penyimpulan yang benar dari kitab suci dan hadis.
Dengan menekankan perhatian pada al-Quran untuk mengantisipasi semua upaya
busuk dari sekelompok orang. Dalam khutbahnya, Sayidah Fatimah az-Zahra as berkata,
"Mengapa kalian tersesat? Padahal ada kitab suci di tengah kalian. Di
dalam kitab itu sangatlah jelas berbagai masalah dan hukum-hukumnya. Jalan
petunjuk sangat jelas dan peringatan-peringatan pun sangat transparan. Apakah
kalian menghendaki al-Quran? Mengapa kalian mencari penengah selain al-Quran.
Meski umurnya begitu singkat, putri kesayangan Rasulullah saw mempunyai
peran luar biasa. Pesan-pesan yang disampaikan oleh Sayyidah Fatimah sarat
dengan pesan keluarga, politik dan sosial. Selain itu, Sayyidah Fatimah
az-Zahra juga mencerminkan seorang hamba yang luar biasa di hadapan Allah SWT.
Ibadah yang dirasakannya sama sekali tak tergantikan dengan segala kenikmatan
dunia. Dalam riwayat disebutkan, Sayyidah Fatimah dan keluarganya berpuasa tiga
hari berturut-turut dan cukup berbuka dengan air karena ingin bersedekah kepada
orang-orang miskin. Kehidupanya penuh dengan kedermawanan, beliau juga
beribadah dari malam hingga pagi. Beribadah kepada Allah SWT merupakan
kerinduan tersendiri bagi Sayyidah Fatimah az-Zahra.
Meski hidup sederhana, keluarga putri kesayangan Rasulullah saw diliputi
rasa kebahagiaan yang melimpah. Rumah kecilnya penuh dengan aura spiritual yang
juga menjadi tempat bertumpunya orang-orang yang tidak mampu. Di penghujung
umurnya, beliau hanya menyampaikan wasiatnya kepada suaminya, sebagai wujud
ketulusan dan ketaatan. Ketulusan dan pengorbanan Sayyidah Fatimah az-Zahra
atas suaminya telah menciptakan keluarga ideal dan manusia-manusia besar dalam
sejarah manusia.
0 komentar:
Posting Komentar