Selasa, 13 November 2012

Quraish Shihab Berbicara Tentang Perempuan

Judul Buku     : Perempuan
Penulis           : M. Quraish Shihab
Penerbit         : Lentera Hati
Tahun Terbit  : 2009 (Cetakan V)
Tebal              : 461 halaman

Cerita tidak akan pernah habis, jika membahas tentang perempuan dan seluk beluknya. Buku ini pun hadir untuk turut memperbincangkan perempuan dan segala hal yang berkaitan dengannya. Buku dengan sampul yang mencolok berwarna merah muda memberikan penekanan bahwa pembaca akan menyelam cukup jauh untuk mengenal perempuan.

Kemampuan penulis (Quraish Shihab) memberikan penjelasan lengkap, tapi tidak membosankan tentu saja menjadi nilai tambah buku ini. Ditambah lagi dengan beberapa poin yang berusaha membuka tabir tentang cara Islam memandang perempuan dengan segala kemampuan dan keterbatasan yang dimilikinya. Buku ini tetap patut diapresiasi, karena jarang sekali buku agama yang bisa memberikan ayat yang dijadikan dalil untuk pembenaran dengan penjelasan yang sangat gamblang. Namun, pembaca harus tetap berhati-hati menafsirkan setiap ayat yang dijadikan dalil dari setiap pembahasan tersebut.

Dari segi isi, buku ini menyajikan aneka persoalan seputar perempuan, utamanya dilihat dari sudut pandang Islam. Di dalam buku ini dibicarakan tentang perempuan dengan segala sifat, karakter dan kebiasaannya; perempuan dan kehidupan rumah tangga, dari pernikahan hingga pembentukan keluarga sakinah; dan pembahasan tentang perempuan dan aktivitasnya di ranah publik. Beberapa pembahasan dalam buku ini sebenarnya cukup sensitif untuk dibahas. Namun, sekali lagi buku ini tetap patut diapresiasi dan dijadikan sebagai salah satu referensi bagi perempuan untuk mengetahui hak dan kewajibannya.

Keberadaan perempuan di ranah publik dengan segala tingkah lakunya menjadi salah satu poin penting dalam buku ini. Perempuan dengan gaya hidup terkini tentu saja harus disesuaikan dengan segala hal yang diajarkan dalam agama Islam. Dan buku ini bisa menjadi salah satu rujukan.
Buku ini memang berjudul “Perempuan”, tetapi tidak berarti buku ini hanya pantas dibaca oleh perempuan. Kaum lelaki tak kalah penting untuk membacanya. Karena di bagian awal buku , penulis mencoba memberikan gambaran rasional tentang batasan perbedaan serta bagian kesamaan dari laki-laki dan perempuan. Hingga cara Islam menyikapi adanya perbedaan dan persamaan tersebut dalam keluarga dan di ruang sosial.

Sebagai bahan perbandingan, penulis tidak sekedar mencatut beberapa ayat dari Al Quran dan menerjemahkan sesuai pemahamannya saja. Namun di setiap pembahasan, penulis selalu mencoba memberikan gambaran dari sudut pandang berbeda, khususnya dari beberapa ulama ataupun filsuf, baik untuk mendukung argumentasi yang akan dipaparkan atau menjadi antitesa dari paparannya. Sehingga dari sudut pembahasan, buku ini menghadirkan cover both side dari setiap bagiannya. Selamat menyelami kedirian perempuan lebih dalam.



Tawakkul Karman : Ibu Revolusi Melati dari Yaman

Perempuan hari ini cenderung sibuk mempercantik penampilan fisiknya saja, mengelilingi pusat perbelanjaan, berkumpul dan bergosip bersama dengan ibu-ibu yang lain, tanpa pernah memikirkan hal-hal yang sifatnya sosial. Berbeda dengan seorang perempuan yang satu ini. Tawakkul Karman seorang peraih nobel perdamaian dari Yaman yang malah sibuk menjadi seorang aktivis HAM.

Tahun 2011, beliau menjadi pemimpin Revolusi Melati untuk menumbangkan rezim Yaman yang korup. Suatu pagi, ratusan orang yang membebat kepala dan lengan dengan pita bewarna pink berkumpul di depan gerbang Universitas Sana’a. Seorang perempuan berjilbab dengan busana bermotif bunga menaiki mimbar. “Kita akan terus berjuang menggerakkan Revolusi Melati ini, sampai sistem korup yang merampok kemakmuran rakyat Yaman tumbang!” teriak perempuan bernama lengkap Tawakkul Abdus Salam Karman itu. Massa pun bertepuk gemuruh.

Bagi Tawakkul, rezim Saleh tidak hanya merampok masa depan kaum muda Yaman, tapi juga merampas kehormatan mereka. Meski sebagian rakyat Yaman terinspirasi perlawanan kekerasan model Al-Qaeda, namun ia tetap memilih perjuangan dengan jalan damai. Lebih-lebih, Tawakkul lahir di daerah Mekhlaf, Provinsi Ta’izz, yang oleh banyak kalangan dianggap sebagai kampungnya Islam garis keras.

Pada awal Januari 2011, ia ditangkap aparat pemerintah dan diseret dari dalam mobilnya. Sejak peristiwa itu, Yaman menyedot perhatian dunia, dan penangkapan itu menjadi pemicu ribuan demonstran turun ke jalan-jalan kota menyerukan Revolusi Melati. Puncaknya, pada 18 Maret 2011, ribuan warga shalat Jumat memadati Dairy Street, di Sahah Taghyir untuk menyampaikan tuntutannya tiba-tiba diberondong tembakan dari atas gedung.

Sebagaimana kebiasaan sejak eskalasi protes makin meningkat di Yaman, hari Jumat bukanlah waktunya perempuan turun ke jalan. Karena, biasanya perempuan berdemonstrasi pada hari Kamis. Tak lama setelah insiden penembakan itu Tawakkul tampak setengah berlari ke arah kemurunan massa yang panik. Sontak, momen itu diabadikan para pewarta, baik domestik maupun mancanegara.

Tawakkul menyatakan siap mati, dan ia yakin rakyat semakin sadar betapa kejamnya Presiden Saleh yang telah membunuh seorang perempuan yang kerap menyerukan perjuangan damai. Setelah kejadian yang merenggut nyawa 70-an orang itu Yaman tak pernah sepi dari demonstrasi. Salah satu spanduk yang terentang selama aksi melawan rezim Saleh tertulis: Kami telah mencium bau melati.

Tawakkul mengangkat derajat perempuan di Yaman yang masih diperintah secara kesukuan dan patriarkis. Sementara itu, buta huruf di kalangan perempuan Yaman juga masih menjadi masalah yang merisaukan. Tambahan, kaum hawa banyak yang menderita gizi buruk karena keluarganya cenderung mengistimewakan anak lelaki. Tawakkul menyadari bahwa usahanya itu mendapatkan banyak hambatan dari orang-orang yang ia sebut sebagai kaum ekstremis. Mereka membicarakannya di masjid-masjid dan mengeluarkan selebaran yang mengutuknya tidak Islami. Mungkin karena pernyataan-pernyataan pedasnya itulah ia juga dijuluki “Wanita Besi”.

Pada 10 Desember 2011, dalam sebuah upacara bergengsi di Oslo, Norwegia, Tawakkul Karman bersama dua perempuan lainnya, yakni Presiden Liberia Ellen Johnson dan Leymah Gbowee, meraih penghargaan Nobel perdamaian. Sebelumnya, Tawakkul masih berada di tenda perlawanan para demonstran ketika ia menerima kabar dinobatkan sebagai perempuan Arab pertama dan sekaligus termuda yang menerima hadiah Nobel pada usia 32 tahun.
Kehormatan itu dipersembahkannya untuk setiap perempuan yang kehilangan anak, suami atau saudara pada musim semi (Arab Spring) Revolusi Arab selama ini.“Manakala perempuan diperlakukan tidak adil dan tersingkir dari hak alaminya dalam proses bernegara, maka segala kekurangan sosial dan penyakit budaya akan terhampar. Pada ujungnya seluruh anggota komunitas, baik lelaki maupun perempuan, akan sama-sama menderita,” papar Tawakkul dalam pidato penerimaan Nobelnya.

Bagi Tawakkul, ada empat tahapan dalam Revolusi Melati, yaitu: menumbangkan sang diktator dan keluarganya; menumbangkan aparat keamanan dan militer serta jaringan nepotismenya; mendirikan kelembagaan tradisional; dan mendirikan negara demokratis dan sipil modern.

Revolusi Lifestyle Perempuan

Oleh: Malikha Zahra

Fashion sangat melekat dalam diri seorang perempuan yang kini kian meramaikan jagat kebutuhan wanita, khususnya wanita muslimah. Emansispasi menjadi salah satu alasan berkembang pesatnya lifestyle perempuan berhijab. Mencoba menerobos kungkungan atas kreatifitas setiap manusia. Ya, setiap manusia berhak memperoleh dan mengaplikasikan pengetahuan sebagai fitrahnya serta menciptakan hal baru sebagai wujud inovatif dalam peradaban. Dan kaum hawa juga mulai memperoleh haknya. Namun, apakah kita bebas untuk mengekspresikannya atau ada hal yang mengatur di belakangnya?

Fenomena “hijabers” yang kian digandrungi oleh muslimah, akhirnya menjadi sebuah gaya hidup yang menjamur di seluruh Indonesia. Pro dan kontra pun kerap kali muncul dalam diskusi-diskusi kecil para komunitas perempuan, bahkan kaum Adam pun sering membincangkannya. Sontak gaya hidup ini menjadi spirit bagi perempuan-perempuan untuk ingin berusaha menyempurnakan dirinya dengan berjilbab, bahkan beberapa aktris pun melakukannya. Namun, yang disayangkan adalah paradigma perempuan muslimah yang “hanya” mempercantik gaya atau model pakaian serta jilbabnya. Terbukti dengan semakin banyaknya tutorial-tutorial menggunakan jilbab, agar nampak rapi dan trendi. Selayaknya banyak kemuliaan dan keindahan perempuan yang dapat digali, mulai dari kecerdasan intelektualnya sampai spiritnya berjuang dengan kasih dan cintanya kepada Sang Pemilik Cinta, seperti yang dilakukan oleh perempuan teladan dan mulia sepanjang masa, yaitu Fatimah Az Zahra. Beliau dengan kezuhudannya mengatakan kepada Rasulullah SAW: “Wahai Rasulullah, Salman heran melihat pakaianku. Demi yang mengutusmu dengan kebenaran, aku dan Ali sejak lima tahun tidak memiliki sesuatu pun kecuali kulit domba yang pakai untuk memberikan makan onta kami pada siang hari dan menjadikannya tikar pada malam hari, dan bantal kami terbuat dari kulit yang berisi sabut.” Dapat dilihat bahwa lifestyle yang diciptakan oleh Fatimah Az Zahra berkaitan dengan sebuah susbstansi nilai, yaitu perjuangan akan kebenaran dan keadilan. Terlebih lagi dengan sebuah keikhlasan dan kezuhudan yang dimiliki menjadikannya manusia suci yang sangat dicintai baginda Rasulullah SAW.

Sejatinya setiap manusia termasuk perempuan memiliki dua tanggung jawab, yaitu tanggung jawab sebagai individu yang berkaitan dengan personal dan hubungan vertikalnya dengan Tuhan, seperti salat, puasa, doa, dan lainnya. Dan yang kedua adalah tanggung jawab sosial sebagai makhluk sosial perlu meletakkan keberpihakannya pada perjuanagn kemanusiaan, baik dalam keluarga, masyarakat, bangsa, dan lainnya. Hal ini meniscayakan bahwa perempuan pun penting untuk membuat tatanan sosial masyarakat yang pro keadilan dan kebenaran baik yang dimulai dengan mendidik calon generasi masa depan sampai menjadikannya pemimpin masa depan. Tentunya persoalan mendidik bukanlah hal yang enteng, butuh pengetahuan yang luas untuk memaksimalkannya. Supaya tak ada lagi koruptor masa depan, kapitalis masa depan, dan lainnya. Oleh karena itu, lifestyle masa kini seyogyanya memberi perhatian pada ranah intelektual, emosional, dan spiritual seorang perempuan. Misalnya, gaya hidup perempuan gemar membaca, berlembaga, diskusi, menulis, dan dekat dengan kaum mustadhafin. Ketika pola hidup tersebut yang menjadi tren, impian tentang revolusi dunia mungkin akan segera tampak. Karena baik laki-laki maupun perempuan akan saling melengkapi perjuangannya di jalan Tuhan. Perjalanan menuju substansi cinta.

Karena sang Penguasa langit dan bumi memberikan kesempatan kita untuk mencicipi dunia, maka tugas setiap manusia adalah menjadi pasukan Tuhan di muka bumi. Atau istilah lainnya adalah khalifah di muka bumi. Dalam bahasa sederhananya kita sebut dengan berjuang. Berjuang tak lagi atas namaa ego diri, keluarga, kelompok, atau suku. Namun, lebih mulia daripada itu adalah atas nama semesta dan nilai. Sehingga, dalam hal lifestyle untuk perempuan pun sejatinya berlandaskan nilai dan bertujuan menjadi insan kamil.

Wahai perempuan, keindahanmu tampak dari rona kebijaksanaanmu
Kemuliaanmu ada pada hasrat intelektualmu yang tak berujung
Dan keagunganmu tampak dari spirit perjuanganmu menghempas kezaliman.
(Winda Junita Ilyas)


Kisah hikmah: Dosa dan Najis

Seorang pelajar muda bertanya kepada Muqaddas Ardabili ra, “Ustad, apakah Anda melakukan dosa?”

Ustad menjawab, “Anakku, semua orang pasti melakukan dosa.”

“Yang kumaksud adalah Anda, bukan orang kebanyakan. Apakah Anda pernah berbuat dosa?” Tanya pemuda itu kembali.

Sambil tersenyum, Muqaddas Ardabili menjawab, “Allahu Akbar! Jika Kau masih bersikeras, harus aku katakan bahwa aku tidak berbuat dosa!”

“Apakah pikiran berbuat dosa juga tidak pernah terlintas di benak Anda?”

“Tidak, aku pun tidak pernah berpikir berbuat dosa.”

Pemuda yang merasa heran itu lalu bertanya, “Apakah hal semacam ini bisa terjadi?”

“Ya, ini bukan hal mustahil. Kalau Kau tidak terima, aku bertanya dan jawablah dengan benar. Apakah Kau mau makan benda najis?”

Air muka pemuda yang merasa terhina dengan pertanyaan ini berubah dan menjawab, “Tentu saja tidak. Pertanyaan macam apa ini?”

Muqaddas Ardabili kembali bertanya, “Apakah Kau pernah berpikir memakannya?”

“Tidak.”

Ustad berkata, “Dosa bagiku juga seperti benda najis dan lebih buruk darinya!”