Senin, 22 Oktober 2012

TOTTO CHAN DAN PERJALANAN KEMANUSIAANNYA UNTUK ANAK-ANAK DUNIA

JUDUL BUKU      :  TOTTO-CHAN’S CHILDREN (A Goodwill Journey to The Children of The World)
PENGARANG     : TETSUKO KUROYANAGI (TOTTO CHAN)
PENERBIT           : PT GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA
TAHUN                            : 2010
TEBAL HLM        : 322 HALAMAN

Masa kecil Totto Chan yang digambarkan di buku sebelumnya yang berjudul Totto Chan (Gadis Cilik di Jendela) masih tetap menjadi pengalaman berharga. Totto Chan atau nama lengkapnya Tetsuko Kuroyanagi pun tumbuh dewasa, menjadi seorang perempuan yang berkarir di dunia hiburan. Namun, karirnya yang cemerlang tidak membuatnya lupa akan masa kanak-kanaknya.
Pada tahun 1984, UNICEF mengangkatnya sebagai duta kemanusiaan. Hal ini tidak terlepas dari apa yang beliau tulis di buku sebelumnya. Perjalanan panjangnya selama menjadi duta kemanusiaan UNICEF dibeberapa daerah menjadi bagian utama dari buku “Anak-Anak Totto Chan”. Totto Chan dewasa tidak sekedar mengantarkan bantuan atau melaksanakan acara seremoni bertemu dengan pimpinan tertinggi daerah setempat. Namun, anak-anaklah yang tetap menjadi fokus utama dalam setiap perjalanannya.
Buku ini memulai ceritanya pada tahun 1984. Tetsuko memulai perjalanan kemanusiaannya di negara Tanzania yang terletak di benua Afrika. Sejak tahun 1982, Tanzania mengalami kekeringan parah; hujan yang tidak lagi turun sehingga tak ada lagi gandum yang dapat tumbuh. Hal ini menyebabkan setiap harinya, kira-kira 600 anak balita meninggal akibat kelaparan dan penyakit di daerah tersebut. Air menjadi permasalahan utama di wilayah ini.
Dalam perjalanannya di Tanzania, Tetsuko bertemu seorang anak laki-laki bernama Rogati. Dalam kondisi normal Rogati sudah bersekolah di sekolah dasar, namun pada kenyataannya untuk berdiri dan berbicara begitu sangat sulit baginya. Sang ibu dari anak ini pun kekurangan gizi, sehingga tidak bisa memberikan ASI dan makanan lain bagi Rogati dan saudara-saudaranya yang lain.
Seuntai kata yang dibahasakan oleh kepala suku daerah setempat yang cukup menyayat hati Tetsuko, “Miss Kuroyanagi, saat anda kembali ke Jepang, ada satu hal yang saya ingin anda ingat: orang dewasa meninggal sambil mengerang, mengeluhkan rasa sakit mereka, tapi anak-anak hanya diam. Mereka mati dalam kebisuan, di bawah daun-daun pisang, mempercayai kita, orang-orang dewasa.”
Cerita lain, di Tanzania yang dialami oleh Tetsuko yaitu ketika dia diberikan air untuk mencuci tangannya oleh seorang perempuan. Air yang berlumpur itu rela diberikan oleh perempuan itu untuk Tetsuko agar digunakan mencuci tangannya, padahal ternyata untuk mengambil air itu dibutuhkan usaha untuk menempuh perjalanan sejauh 4,8 km. Tapi ini pun terbilang beruntung, karena kebanyakan orang harus berjalan sejauh 14-16 km untuk mengambil air yang belum tentu bersih.
Cerita haru yang tetap memberikan motivasi hidup sendiri bagi anak-anak korban kekeringan panjang, penyakit mematikan, korban perang. Selalu ada harapan besar dari anak-anak itu yang didapatkan oleh Tetsuko di setiap negara yang dikunjunginya sepanjang tahun 1984-1996. Nigeria (1985), India (1986) Mozambik (1987), Kamboja dan Vietnam (1988), Angola (1989), Bangladesh (1990), Irak (1991), Ethiopia (1992), Sudan (1993), Rwanda (1994), Haiti (1995), dan Boznia-Herzegovina (1996) adalah negara-negara yang telah dikunjungi oleh Tetsuko.
Dalam buku ini, cerita ini tidak selesai begitu saja setelah Tetsuko meninggalkan negara tersebut. Namun, perempuan Jepang ini tetap mengupayakan usaha bantuan tidak dari dirinya saja. Dengan adanya beberapa fota ataupun kutipan video mengenai daerah kunjungannya, Tetsuko gunakan untuk menarik perhatian orang-orang di Jepang untuk memberikan bantuan dana ataupun moril. Walaupun terkesan menjual kesengsaraan orang lain, namun hal ini dia lakukan untuk memberikan kehidupan yang sedikit lebih layak bagi anak-anak yang berada di daerah konflik ataupun daerah kekeringan.
Selamat membaca, semoga nilai kemanusiaan dalam diri tetap ada. Tanpa memandang tempat, waktu dan objek kemanusiaan.

0 komentar:

Posting Komentar