JUDUL BUKU :
TOTTO-CHAN’S CHILDREN (A Goodwill Journey to The Children of The World)
PENGARANG :
TETSUKO KUROYANAGI (TOTTO CHAN)
PENERBIT : PT GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA
TAHUN : 2010
TEBAL HLM : 322 HALAMAN
Masa kecil Totto Chan yang digambarkan di buku sebelumnya yang
berjudul Totto Chan (Gadis Cilik di Jendela) masih tetap menjadi pengalaman
berharga. Totto Chan atau nama lengkapnya Tetsuko Kuroyanagi pun tumbuh dewasa,
menjadi seorang perempuan yang berkarir di dunia hiburan. Namun, karirnya yang
cemerlang tidak membuatnya lupa akan masa kanak-kanaknya.
Pada tahun 1984, UNICEF mengangkatnya sebagai
duta kemanusiaan. Hal ini tidak terlepas dari apa yang beliau tulis di buku
sebelumnya. Perjalanan panjangnya selama menjadi duta kemanusiaan UNICEF
dibeberapa daerah menjadi bagian utama dari buku “Anak-Anak Totto Chan”. Totto
Chan dewasa tidak sekedar mengantarkan bantuan atau melaksanakan acara seremoni
bertemu dengan pimpinan tertinggi daerah setempat. Namun, anak-anaklah yang
tetap menjadi fokus utama dalam setiap perjalanannya.
Buku ini memulai ceritanya pada tahun 1984.
Tetsuko memulai perjalanan kemanusiaannya di negara Tanzania yang terletak di
benua Afrika. Sejak tahun 1982, Tanzania mengalami kekeringan parah; hujan yang
tidak lagi turun sehingga tak ada lagi gandum yang dapat tumbuh. Hal ini
menyebabkan setiap harinya, kira-kira 600 anak balita meninggal akibat
kelaparan dan penyakit di daerah tersebut. Air menjadi permasalahan utama di
wilayah ini.
Dalam perjalanannya di Tanzania, Tetsuko
bertemu seorang anak laki-laki bernama Rogati. Dalam kondisi normal Rogati
sudah bersekolah di sekolah dasar, namun pada kenyataannya untuk berdiri dan
berbicara begitu sangat sulit baginya. Sang ibu dari anak ini pun kekurangan
gizi, sehingga tidak bisa memberikan ASI dan makanan lain bagi Rogati dan saudara-saudaranya
yang lain.
Seuntai kata yang dibahasakan oleh kepala
suku daerah setempat yang cukup menyayat hati Tetsuko, “Miss Kuroyanagi, saat
anda kembali ke Jepang, ada satu hal yang saya ingin anda ingat: orang dewasa
meninggal sambil mengerang, mengeluhkan rasa sakit mereka, tapi anak-anak hanya
diam. Mereka mati dalam kebisuan, di bawah daun-daun pisang, mempercayai kita,
orang-orang dewasa.”
Cerita lain, di Tanzania yang dialami oleh
Tetsuko yaitu ketika dia diberikan air untuk mencuci tangannya oleh seorang
perempuan. Air yang berlumpur itu rela diberikan oleh perempuan itu untuk
Tetsuko agar digunakan mencuci tangannya, padahal ternyata untuk mengambil air
itu dibutuhkan usaha untuk menempuh perjalanan sejauh 4,8 km. Tapi ini pun
terbilang beruntung, karena kebanyakan orang harus berjalan sejauh 14-16 km
untuk mengambil air yang belum tentu bersih.
Cerita haru yang tetap memberikan motivasi
hidup sendiri bagi anak-anak korban kekeringan panjang, penyakit mematikan,
korban perang. Selalu ada harapan besar dari anak-anak itu yang didapatkan oleh
Tetsuko di setiap negara yang dikunjunginya sepanjang tahun 1984-1996. Nigeria
(1985), India (1986) Mozambik (1987), Kamboja dan Vietnam (1988), Angola
(1989), Bangladesh (1990), Irak (1991), Ethiopia (1992), Sudan (1993), Rwanda
(1994), Haiti (1995), dan Boznia-Herzegovina (1996) adalah negara-negara yang
telah dikunjungi oleh Tetsuko.
Dalam buku ini, cerita ini tidak selesai
begitu saja setelah Tetsuko meninggalkan negara tersebut. Namun, perempuan Jepang
ini tetap mengupayakan usaha bantuan tidak dari dirinya saja. Dengan adanya
beberapa fota ataupun kutipan video mengenai daerah kunjungannya, Tetsuko
gunakan untuk menarik perhatian orang-orang di Jepang untuk memberikan bantuan
dana ataupun moril. Walaupun terkesan menjual kesengsaraan orang lain, namun
hal ini dia lakukan untuk memberikan kehidupan yang sedikit lebih layak bagi
anak-anak yang berada di daerah konflik ataupun daerah kekeringan.
Selamat membaca, semoga nilai kemanusiaan
dalam diri tetap ada. Tanpa memandang tempat, waktu dan objek kemanusiaan.
0 komentar:
Posting Komentar