Senin, 22 Oktober 2012

PEREMPUAN “PEWARIS” SANG MAHA PENCIPTA

Oleh: Nuralam

Asma (nama) Allah dan sifat Tuhan merupakan salah satu pembahasan dalam tauhid. Asma dan sifatNya menjadi manifestasi KesempurnaanNya yang merupakan akar gradasi makhuk tercipta. Dari sekian banyak Asma dan sifatNya, para pemikir muslim mengkategorikan dalam dua kategori utama yakni sifat jalaliyah yang mencerminkan sifat-sifat keperkasaan (maskulinitas) dan sifat jamaliyah yang mencerminkan sisi kelembutan (feminitas) Allah.       
Sifat jalaliyah dan jamaliyah tergradasi dalam semesta kosmos dan mengharmonisasikan semesta ciptaanNya dan manusia sebagai makhluk paripurna berpotensi mengaktualkan kedua sifat tersebut, hanya saja kecenderungan laki-laki menyerap sifat jalaliyah lebih banyak sehingga nafkah, perlindungan, dan penjagaan diamanahkan dipundaknya. Sedangkan sifat jamaliyah lebih banyak diserap oleh perempuan sehingga peranan yang berhubungan dengan kasih, sayang, dan pengasuhan dimainkan oleh perempuan.
Sifat jamaliyah Tuhan yang diserap lebih oleh perempuan yang dianugerahi rahim mencerminkan salah satu sifat Tuhan yang agung yakni sifat Maha penciptaNya, sekaligus dengan serangkainan sifat feminitas menjadikan perempuan menempati posisi agung pada ranah metafisis.
Sisi feminitas seorang perempuan tergambar jelas dalam pesan   cucu rasulullah Ali Zainal Abidin Bin Husain, betapa cinta dan kasih tak terkira besarnya senantiasa mengalir dari seorang perempuan yang merupakan manifestasi ultim dari kreasi Tuhan dan  memegang peranan penting dalam keselarasan semesta.
Ibumu telah mengandung, memberikan segalanya kepadamu, mempersiapkan diri untuk berkhidmat kepadamu, memberikan semua yang dia miliki kepadamu dengan senang hati, memikul semua kesedihan atau kepedihannya, diberi kekuatan oleh Allah untuk melahirkanmu, dia rela (senang) kalau kamu kenyang meskipun dia sendiri lapar, dia mempersiapkan untukmu pakaian meskipun dia sendiri tidak berpakaian, dia senang kalau sudah hilang dahagamu meski dia tetap kehausan, dia gembira kalau kamu terhindar dari panas matahari mwski dia sendiri terkena panas matahari, siap menderita tapi kamu memperoleh kenikmatan, siap tak bisa tidur tapi kamu bisa tidur nyenyak. Kalau kamu ingin mensyukuri nikmat yang diberikan ibumu maka selalu ingatlah apa yang dilakukan oleh ibumu, tapi kamu tak akan mampu mensyukuri semuanya”. (Ali Zainal Abidin Bin Husain)
Tujuan mencapai pusat spiritual atau asal kehidupan disimbolkan dengan tawaf,  mengitari ka’bah dari arah kanan ke kiri sebanyak 7 kali. Proses tawaf ini di ibaratkan seperti nutfa yang menuju inti telur. Ka’bah yang dikenal sebagai bait Allah atau rumah Tuhan merupakan lambang bagi rahim kehidupan (Achmad chodjim dalam bukunya mistik dan makrifat sunan kalijaga). perumpamaan rahim dengan bait Allah menyiratkan tentang kemuliaan kedudukan perempuan yang dianugerahkan rahim padanya.
Melalui rahim perempuanlah Tuhan menitipkan sebagian dari keberlangsungan kehidupan yang akan membentuk peradaban, memenuhi tugas-tugas kemanusiaan sebagai khalifatul Ardh dan akan menebarkan aroma yang memiliki keharuman yang melintasi zaman, ruang bahkan waktu.
Mulla shadra berkata dengan firman Tuhan. Setiap kali aku merenungi ayat-ayat berikut:
“dan sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal dari tanah).
Kemudian kami jadikan saripati itu mani (yang disimpan) dalam tempat yang kukuh (rahim).
Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah.  Lalu segumpal darah itu,
Kami jadikan segumpal daging. Dan segumpal daging itu kami jadikan tulang-belulang,
Lalu tulang –belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maha suci Allah, pencipta yang paling baik (QS. Al Mu’minun:12-14)

0 komentar:

Posting Komentar