Asma (nama) Allah dan
sifat Tuhan merupakan salah satu pembahasan dalam tauhid. Asma dan sifatNya
menjadi manifestasi KesempurnaanNya yang merupakan akar gradasi makhuk tercipta.
Dari sekian banyak Asma dan sifatNya, para pemikir muslim mengkategorikan dalam
dua kategori utama yakni sifat jalaliyah yang mencerminkan sifat-sifat
keperkasaan (maskulinitas) dan sifat jamaliyah yang mencerminkan sisi
kelembutan (feminitas) Allah.
Sifat jalaliyah dan jamaliyah
tergradasi dalam semesta kosmos dan mengharmonisasikan semesta ciptaanNya dan
manusia sebagai makhluk paripurna berpotensi mengaktualkan kedua sifat
tersebut, hanya saja kecenderungan laki-laki menyerap sifat jalaliyah lebih
banyak sehingga nafkah, perlindungan, dan penjagaan diamanahkan dipundaknya.
Sedangkan sifat jamaliyah lebih banyak diserap oleh perempuan sehingga peranan
yang berhubungan dengan kasih, sayang, dan pengasuhan dimainkan oleh perempuan.
Sifat jamaliyah Tuhan yang diserap
lebih oleh perempuan yang dianugerahi rahim mencerminkan salah satu sifat Tuhan
yang agung yakni sifat Maha penciptaNya, sekaligus dengan serangkainan sifat
feminitas menjadikan perempuan menempati posisi agung pada ranah metafisis.
Sisi feminitas seorang perempuan
tergambar jelas dalam pesan cucu rasulullah Ali Zainal Abidin Bin
Husain, betapa cinta dan kasih tak terkira besarnya senantiasa mengalir dari
seorang perempuan yang merupakan manifestasi ultim dari kreasi Tuhan dan
memegang peranan penting dalam keselarasan semesta.
Ibumu telah mengandung, memberikan
segalanya kepadamu, mempersiapkan diri untuk berkhidmat kepadamu, memberikan
semua yang dia miliki kepadamu dengan senang hati, memikul semua kesedihan atau
kepedihannya, diberi kekuatan oleh Allah untuk melahirkanmu, dia rela (senang)
kalau kamu kenyang meskipun dia sendiri lapar, dia mempersiapkan untukmu
pakaian meskipun dia sendiri tidak berpakaian, dia senang kalau sudah hilang
dahagamu meski dia tetap kehausan, dia gembira kalau kamu terhindar dari panas
matahari mwski dia sendiri terkena panas matahari, siap menderita tapi kamu
memperoleh kenikmatan, siap tak bisa tidur tapi kamu bisa tidur nyenyak. Kalau
kamu ingin mensyukuri nikmat yang diberikan ibumu maka selalu ingatlah apa yang
dilakukan oleh ibumu, tapi kamu tak akan mampu mensyukuri semuanya”. (Ali Zainal Abidin Bin Husain)
Tujuan mencapai pusat spiritual atau
asal kehidupan disimbolkan dengan tawaf, mengitari ka’bah dari arah kanan
ke kiri sebanyak 7 kali. Proses tawaf ini di ibaratkan seperti nutfa yang
menuju inti telur. Ka’bah yang dikenal sebagai bait Allah atau rumah Tuhan
merupakan lambang bagi rahim kehidupan (Achmad chodjim dalam bukunya mistik dan
makrifat sunan kalijaga). perumpamaan rahim dengan bait Allah menyiratkan
tentang kemuliaan kedudukan perempuan yang dianugerahkan rahim padanya.
Melalui rahim perempuanlah Tuhan
menitipkan sebagian dari keberlangsungan kehidupan yang akan membentuk
peradaban, memenuhi tugas-tugas kemanusiaan sebagai khalifatul Ardh dan akan
menebarkan aroma yang memiliki keharuman yang melintasi zaman, ruang bahkan
waktu.
Mulla shadra berkata dengan firman
Tuhan. Setiap kali aku merenungi ayat-ayat berikut:
“dan sesungguhnya
kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal dari tanah).
Kemudian kami jadikan
saripati itu mani (yang disimpan) dalam tempat yang kukuh (rahim).
Kemudian air mani itu
kami jadikan segumpal darah. Lalu
segumpal darah itu,
Kami jadikan segumpal
daging. Dan segumpal daging itu kami
jadikan tulang-belulang,
Lalu tulang –belulang
itu kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk yang
(berbentuk) lain.
Maha suci Allah, pencipta yang paling baik (QS. Al Mu’minun:12-14)
0 komentar:
Posting Komentar