Oleh: Rahmad
M. Arsyad (2010)
Seorang gadis berusia
enam tahun dengan rambut berkepang dua. Matanya biru. Ia sedang berpidato
dihadapan anak-anak lainya. Rachel Corrie begitu namanya. Begini kira-kira
pidatonya; “Orang-orang tanpa hak istimewa telah melakukan pembantaian kepada
manusia lain di banyak belahan dunia. Untuk itu kita mesti terus bekerja untuk
menghalau apa yang dilakukan mereka atas manusia lainnya. Kita tidak bisa
meninggalkan mereka untuk melakukan pekerjaan sendiri dan hanya bisa mengutuk,
bahwa negara kita tanpa sadar memiliki keterlibatan dalam membunuh mereka.
Rakyat Palestina bekerja untuk hidup mereka, kita mesti membantu dengan apa
yang kita punya. Karena dengan begitu kita ikut memberikan sumbangsih bagi
dunia!”
Dua puluh tahun kemudian Corrie
membuktikan ucapanya. Ia menjadi sosok perempuan yang selalu berbicara tentang
misi perdamian. Dibesarkan di Olympia, Washington, menghadiri Modal High School
dan The Evergreen State College. Ketika kuliah, Corrie Olympia bergabung dengan
Gerakan Keadilan dan Perdamaian, dan kemudian International Solidarity
Movement, atau ISM.
ISM, yang didirikan pada tahun 2001,
bertujuan untuk membantu dengan protes mereka terhadap kekerasan militer Israel
di Tepi Barat. Organisasi ini menekan Israel dan Angkatan Pertahanan Israel
(IDF) untuk menghentikan pendudukan atas tanah Palestina, dengan menggunakan
sejumlah taktik perlawanan tanpa kekerasan.
Corrie bersama kawan-kawanya
melanggar jam malam yang diberlakukan Israel di wilayah Palestina. Memindahkan
penghalang jalan yang ditempatkan oleh IDF untuk mengisolasi satu desa dari
yang lain, dan memblokir kendaraan militer seperti tank dan buldozer adalah
cara yang digunakan untuk memprotes pendudukan.
Rachel Corrie pergi ke Rafah di Jalur
Gaza pada bulan Januari 2003. Dia merasa ngeri dengan jumlah kerusakan yang dia
temukan di sana. Rumah hancur dan orang-orang ditahan dan dibunuh setiap hari.
Rachel mencatat apa yang diamati dan dirasakan dalam surat dan email ke rumah
keluarganya.
Dalam satu email dia menulis,
"Sekarang tentara Israel telah benar-benar menggali jalan ke Gaza, dan
kedua dari pos-pos pemeriksaan utama ditutup. Ini berarti bahwa anak-anak
Palestina yang ingin masuk dan mendaftar di universitas tidak bisa. Orang tidak
bisa mendapatkan pekerjaan mereka dan orang-orang yang terjebak di sisi lain
tidak bisa mendapatkan rumah sementara dukungan internasional tak juga kunjung
dating.”
Dalam email lainya Corrie menulis;
“Banyak kebaikan di sini yang saya dapatkan dari warga Palestina. Di sini
mereka menghadapi azab penghancuran yang disengaja oleh orang lain bagi
kehidupan mereka. Tapi mereka menghadapinya dengan manis dan mengerjakan berbagai
kebaikan dalam kehidupan.”
Itulah Corrie yang akhirnya juga
memilih mati muda di arena perjuangan yang diyakininya. Entah Corrie pernah tau
tentang jihad atau islam. Corrie berbicara tentang iman semesta yang bernama “kemanusiaan”.
Pada tanggal 16 Maret 2003 dia telah menempatkan dirinya antara buldoser
Caterpillar dan rumah warga yang menjadi akhir dari hidupnya.
Corrie dan Jihad Kemanusian
Corrie yang bermata biru, dibesarkan
di negara Amerika yang menjadi sekutu utama Israel telah menunjukan sebuah misi
suci dan jihad yang bermakna Universal. Kemanusian, keadilan dan cinta adalah
sebuah iman yang setiap manusia memilikinya. Setiap orang sesungguhnya memiliki
keyakinan yang sama atas prinsip dasar tersebut. Nafsu, ambisi, arogansi
menjadikan manusia melupakan prinsip suci yang ada dalam diri.
Jihad kemanusian yang dilakukan
corrie telah mengajarkan sebuah makna akan pengabdian bagi sesama. Bahwa
sesunguhnya setiap orang terlahir untuk “berbagi” tanpa perlu mengenal batasan
agama, suku wilayah, atau berbagai ruang simbolistik lainya. Corrie berani
mengorbankan dirinya sebagai sebuah simbol akan universalisasi kemanusian.
Sebuah kapal bantuan kemanusian bagi
Palestina disematkan atas namanya untuk memperingati hidupnya yang
didedikasikan bagi kemanusiaan. Lembaga donor The Rachel Corrie Foundation
untuk Perdamaian dan Keadilan juga telah berdiri. Beberapa seniman musik tak
ketinggalan memberikan penghormatan kepada Corrie dan mengabadikanya lewat lagu
mereka. Aktor Alan Rickman dan penulis Katherine Viner mengumpulkan surat
Corrie, jurnal, dan email dan menjadikanya sebuah film berjudul "Nama saya
Rachel Corrie".
Transformasi Kemanusian Rachel Corrie
Maraknya ajakan untuk solidaritas
terhadap masyarakat Palestina tentu saja bagian dari nilai universalitas
kemanusian. Karena fitrahnya itu manusia memiliki sifat dasar kesucian, yang
kemudian harus dinyatakan dalam sikap-sikap yang suci dan baik kepada
sesamanya. Sifat dasar kesucian itu disebut dalam islam dengan kata hanif.
Sebagai makhluk yang hanif itu manusia memiliki dorongan naluri ke arah kebaikan
dan kebenaran atau kesucian.
Pada dimensi ini, Rachel Corrie telah
membuktikan sifat dasar kemanusiaanya sebagai sosok yang hanif dengan
menggunakan nurani sebagai jalanya. Nurani sebagai sesama manusia yang merasa
merupakan bagian dari mahluk semesta yang memiliki kepentingan untuk melakukan
kebaikan bagi manusia lain. Rachel melakukan transformasi kemanusian dengan
menggali pusat dorongan hanifiyah itu terdapat dalam dirinya yang paling
mendalam dan paling murni, yang disebut (hati) nurani, artinya "bersifat
nur atau cahaya (luminous)". Kesucian manusia dapat ditafsirkan sebagai
kelanjutan perjanjian primordial antara manusia dan Tuhan dan Rachel mampu
menembus lapisan tersebut dengan menunaikan jihad kemanusiaan.
Kini tujuh tahun sudah peristiwa jihad
yang melepas kepergian Rachel Corrie dibawah bulldozer israel. Sifat hanif
Rachel diikuti oleh sejumlah aktivis yang tergabung dalam misi kemanusiaan dan
awak kapal yang diabadikan atas namanya Rachel Corrie. Tentara israel masih
juga belum puas dengan menahan para aktivis tersebut di Bandar Udara
Internasional Ashdod, termasuk Mairead Corrigan, peraih Nobel Perdamaian 1976.
Transformasi nilai kemanusian Rachel kini terus hidup di benak banyak orang.
Namun akankah ada yang kembali berani menunaikan misi suci jihad kemanusian
seperti yang ditunjukan Corrie? Kita tunggu saja!
0 komentar:
Posting Komentar