Kamis, 21 Juli 2011

Kaki Itu

Kaki itu melangkah dengan angkuhnya
Berlenggak–lenggok ke sana ke mari masih dengan angkuhnya
Mengantarkan dia mengarungi dunianya yang gemerlap
Segemerlap lampu malam yang membiaskan indahnya cahaya bulan

Kaki itu melangkah dengan angkuhnya
Masih setia mengantarkan dia dari ruangan satu ke ruangan lainnya
Mengecap apa yang tidak dia dapatkan di ruangan yang satu dan lainnya
Tanpa tahu sudah berapa banyak makhluk lawan jenisnya yang ingin menyentuhnya

Kaki itu melangkah dengan angkuhnya
Hanya berhiaskan alas kaki yang berhak 7cm
Yang lalu membuat kaki itu terlihat semakin indah
Kemudian mata kawannya terlihat melirik dengan irinya

Tapi kaki itu masih melangkah dengan angkuhnya
Menjauhkan perempuan itu dari rumah Tuhannya
Membuatnya masih dengan bahagianya mengecap dunia tanpa Tuhannya
Dan yah… kaki itu masih dengan setia menemaninya tanpa mengeluh sedikit pun

REVIEW BUKU TUHAN, IZINKAN AKU MENJADI PELACUR; memoar luka seorang muslimah.


Oleh: Henny Nur Pratiwi

Judul : Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur - Memoar Luka Seorang Muslimah
Pengarang : Muhidin M. Dahlan
Penerbit : ScriPta Manent
Tebal : 261 

Nidah Kirani. Salah satu mahasiswi di Kampus Matahari Terbit Yogyakarta adalah seorang muslimah yang taat. Tak pernah lalai dalam mengerjakan perintah Allah SWT. Hampir semua waktunya ia habiskan untuk  beribadah kepada-Nya, seperti sholat, membaca Al-quran dan berzikir. Ibadahnya semakin kuat, ketika Rahmi, sosok yang ia jadikan contoh teladan dalam merengkuh hangat Cinta Tuhan harus meninggalkannya di Pondok Ki Ageng sendiri. Sepeninggal Rahmi, ia banyak menghabiskan waktu di kamar untuk beribadah, yang tak pelak menimbulkan banyak cerita miring dari teman pondoknya akan sikapnya itu. Kiran hanya ingin betul–betul menghambakan dirinya kepada Sang Khalik. Awalnya Ia tidak begitu ambil pusing, namun lama–kelamaan ia juga merasa gerah dengan keadaan tersebut, bahkan tubuh yang ia hijabi dengan jilbab dan jubahnya yang besar dianggap sebagai “tekstil berjalan“ oleh teman–teman pondoknya.

Sebenarnya keinginan Kiran Cuma satu yakni menegakkan Daulah Islamiyah di bumi Indonesia, dan itu harus ia mulai dari dirinya sendiri. Keinginan Kiran hampir terwujud ketika bertemu dengan Dahiri, teman sekelasnya dan salah satu anggota teraktif dalam kelompok diskusi yang ia buat. Dahiri memperkenalkan Kiran pada sebuah organisasi yang mempunyai tujuan yang sama dengan Kiran, yakni mendirikan Daulah Islamiyah di Indonesia. Kiran sangat senang karena ternyata ada banyak saudaranya yang menginginkan hal tersebut dan bisa mengantarkannya berislam secara kaffah. Namun, setelah sebulan menjadi anggota baru organisasi itu, ia mulai menemukan keganjalan-keganjalan yang merusak nalar kritis dan imannya. Organisasi yang mengatasnamakan Islam, ternyata tak se”ISLAM” yang ia kira. Soal ritual keagamaan, Kiran jauh lebih taat daripada mereka yang ada di organisasi. Mereka terlalu sibuk mengadakan dakwah atau dalam artian menggaet anggota baru. Setiap anggota diharuskan menyumbang minimal 500 ribu yang katanya untuk kas perjuangan. Mereka memperbolehkan berbohong, menipu, mencuri maupun melacur sepanjang itu berkaitan dengan kepentingan organisasi. Namun, hal itu tentu saja mencederai akal sehat seorang Nidah Kirani. Semua tanya yang ia lontarkan hanya mengambang dan menguap ke udara, lalu lenyap. Ibadahnya tak lagi setaat yang dulu. Bahkan Ia mulai marah kepada Tuhan karena merasa ditelantarkan dan tak mendengar semua keluh kesahnya. Tuhan harus bertanggung jawab atas apa yang menimpanya.

Ditengah kegalauan dan kekosongan yang Kiran hadapi, ia mulai terjerumus ke dunia hitam, ia tak punya pegangan. Free sex, obat–obatan terlarang, nikotin, menjadi temannya kali ini. Pemandangan yang sangat amat jauh berbeda dari seorang Nidah Kirani terdahulu. Kiran ingin Tuhan melihat dirinya, melihat pemberontakan yang ia lakukan melalui sosok bernama laki–laki. Daarul, dialah yang pertama kali menjadi objek pemberontakannya, seorang Ketua Forum Studi Mahasiswa Kiri untuk Demokrasi. Namun, Daarul meninggalkannya tanpa alasan yang jelas ketika ia sudah mulai menikmati permainannya dan merasakan candu dari pacaran. Tentu saja Kiran merasa tersakiti, sangat sakit. Ia semakin absurd tentang Tuhan, tentang agama, tentang cinta dan tentang laki–laki. Tapi itu tak menghentikan langkahnya untuk balas dendam terhadap Tuhan atas keacuhannya pada dirinya. Petualangannya pun berlanjut pada laki–laki lain, Fuad, Midas, Awaluddin, Wandi, yang rata–rata adalah para aktivis kampus, baik sayap kiri maupun sayap kanan yang selalu menegakkan tegaknya moralitas dan idealisme. Bahkan, seorang dosen kampus Matahari Terbit Yogyakarta bersedia menjadi germonya dalam dunia pelacuran, yang ternyata adalah anggota DPRD dari fraksi yang selama ini gigih memperjuangkan tegaknya syariat Islam di Indonesia. Astagfirullah.

Hingga akhir cerita, Kiran semakin menjauh dan membenci TUHAN. Menyalahkan-Nya terus menerus atas apa yang terjadi padanya. Mengapa ENGKAU tak  menegurku, mengapa ENGKAU tak melindungiku, kurang meng”hamba” apa lagi aku kepada-Mu. Kiran pasrah. Kiran, sang nabi kejahatan, sang putri api yang membongkar topeng–topeng kemunafikan. 

Salah satu buku yang inspiratif, penuh intrik namun tetap sarat akan makna yang dalam tentang TUHAN dan ciptaannya. Namun, bisa meruntuhkan Iman, bagi siapa saja yang membacanya jika tak ditanggapi dengan bijaksana. Ya, seperti Nidah Kirani.

Asiyah, Perempuan Surga


Oleh: Asiah Farannisa’

Allah berfirman, Allah membuat istri Fir'aun sebagai contoh bagi orang-orang yang beriman ketika ia berkata, " Tuhan, buatkan aku satu rumah di sisi-Mu dalam Firdaus. Selamatkan aku dari Fir'aun dan perbuatannya, dan selamatkan aku dari kaum yang zalim" (Al-Tahrim (66):11).

Tak banyak yang mengenal sosok Asiyah lebih rinci. Selain karena tidak banyak keterangan tentang sejarah hidupnya, masanya juga telah lama berlalu hingga para ahli sejarah banyak yang berbeda pendapat. Meski pun demikian, banyak ahli riwayat tempo dulu yang sama sekali tidak mengetahui sejarah Mesir Kono berkata bahwa wanita yang dimaksud adalah Asiyah bint Muzahim. Mereka berpegang pada sebuah hadis dan mengaitkan dengan seseorang dari kalangan mereka sendiri, yaitu Muzahim ibn Ubaid ibn Arroyan ibn al-Walid (Fathi Fawzi, Perempuan-Perempuan surga).

Asiyah, perempuan yang Allah angkat menjadi salah satu pemimpin perempuan di surga. Beliau adalah istri kedua Fir'aun Ramses, pemimpin zalim, bengis, dan sombong yang mengangkat dirinya sendiri sebagai Tuhan. Satu dari sedikit manusia yang namanya diukir indah dalam Al-Qur'an. Allah memberikan penghormatan padanya karena ketakwaan dan keshalehannya. Contoh bagi kaum perempuan yang tegak dalam keimanannya ditengah lingkungan yang dipenuhi dengan kemusyirikan. Teladan sebagai istri penyabar yang menjaga kehormatan keluarganya dan tidak mudah mengeluh. Meskipun hidup di istana dan berlimpah harta, Asiyah tidak takluk pada kemewahan duniawi yang dengan mudah dapat diperolehnya.

Asiyah adalah perempuan yang lemah lembut dan penuh dengan kasih sayang. Ia dicintai oleh rakyatnya. Hal ini juga ia tunjukkan dengan berusaha memberi perlindungan kepada Musa dari suaminya Fir'aun yang selalu mencari kesempatan untuk menyingkirkan Musa. Dia mengangkat Musa sebagai anak dan ikut berperan dalam pertumbuhan Musa di tengah situasi dimana setiap anak laki-laki yang dilahirkan di masa itu dibunuh dan tidak diberi kesempatan hidup sejak ibunya melahirkannya. Hal ini berawal dari seorang peramal yang menemui Fir'aun dan mengatakan bahwa kelak dia dan kerajaannya akan dihancurkan oleh seorang anak laki-laki dari Bani israel. Menurut sang peramal, anak laki-laki tersebut masih bayi. Mendengar hal itu, Fir'aun memerintahkan bala tentaranya untuk mengawasi setiap bayi yang akan dilahirkan, jika ia laki-laki maka harus segera dibunuh. Namun Allah memiliki rencana lain, Ia telah menyusun skenario dengan menyelamatkan salah satu anak laki-laki dari bangsa ibrani, dialah Musa. Seorang bayi mungil yang ditemukan di dalam sebuah peti yang hanyut  di dekat pepohonan di pinggir sungai.

Kasih sayang Asiyah terhadap Musa sangatlah besar. Ia rela diperlakukan kejam oleh Fir'aun demi membela Musa. Bahkan setelah Fir'aun suaminya meninggal hingga pada saat Fir'aun Sette (cucu Fir'aun Ramses dan Asiyah) berkuasa mengetahui keimanan Asiyah, Asiyah rela menanggung semua penderitaannya dengan kesabaran dan keteguhan imannya terhadap Allah, Tuhan Ibrahim dan Yusuf.

Hingga akhir hayatnya, Asiyah meninggal dengan cara yang kejam. Fir'aun Sette membujuknya untuk kembali mengimani ketuhannanya, tapi Asiyah malah bergeming seraya berdoa, "Wahai Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam Firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya. Selamatkanlah aku dari kaum yang zalim (Al-Tahrim (66):11). Sedang Fir'aun dengan bengisnya menyiksa Asiyah hingga akhirnya wafat.

Ibu dan Tugas Kerasulan


Oleh: Almin Jawad

“Pada tangan yang mengayun ambing buaian itu, ada tangan yang mengguncang dunia”.

Seorang sahabat kebingungan antara mendahulukan ibu atau ayahya dalam berkhidmat. Segera ia mendatangi nabi untuk memperoleh jawaban atas kebingungannya itu. “Ya Rasulullah, siapakah yang harus aku dahulukan diantara kedua orangtuaku?” “Ibumu”, jawab Rasulullah. “Lalu siapa lagi?” “Ibumu”, jawab Rasulullah lagi. “Kemudian siapa lagi?” Rasulullah menjawab, “Ibumu, baru ayahmu”. Rasulullah menyebut ibu sebanyak tiga kali sebelum menyebut ayah sebanyak satu kali. Hadis ini menunjukkan ketinggian derajat ibu sekaligus peran yang amat berat bagi wanita sebagai ibu. Pada pribadi seorang wanita, terdapat banyak tanggung jawab. Saya akan menyebutkan dua diantaranya. Pertama, peran sebagai ibu. Dalam Islam, peran ini merupakan peran yang paling besar dari seluruh peran yang lain. Islam memandang kedudukan ibu lebih utama. Sehingga disebutkan bahwa surga berada di telapak kaki ibu. Hadis Nabi Saw ini memberikan pesan yang mendalam tentang kedudukan ibu. Menurut Nabi, surga di tengah-tengah rumah tangga itu terletak di bawah telapak kaki ibu. Kehadiran wanita sebagai ibu di rumah bisa memberikan surga atau neraka bagi keluarganya, terutama sekali bagi anak-anaknya. Dalam psikologi dikenal istilah maternal deprivation. Jika seorang anak sejak kecil sudah berpisa dengan ibunya, baik secara geografis maupun psikologis, maka kehadiran ibunya di rumah hampir tidak bermakna bagi anak itu. Maternal deprivation yang dialami anak-anak pada usia dini telah menjadikan kediamannya sebagai neraka; ia akan menderita kesepian di tengah-tengah keluarganya. Menurut para psikolog, jika kondisi ini berlangsung terus-menerus, penyakit ini akan berkembang menjadi penyakit psikomatis; ia akan rentan terhadap berbagai penyakit.

Pernah diadakan percobaan terhadap monyet di Amerika. Beberapa monyet yang baru lahir dibagi dalam tiga kelompok: (1) monyet yang dipisahkan dari ibunya sama sekali; (2) monyet yang dipisahkan dari ibunya tetapi diberi dua macam ibu artificial – ibu buatan: ibu yang satu dibuat dari semacam kawat besi dengan air susu; dan ibu yang lain terbuat dari bulu empuk, kemudian dihangatkan dengan aliran listrik. Monyet itu menyusu pada ibu kawat, tetapi waktunya lebih banyak dia habiskan untuk memeluk ibu yang hangat itu; (3) monyet yang tinggal bersama ibunya.

Beberapa saat kemudian, diketahui terjadi beberapa tingkah laku yang berbeda dari ketiga monyet itu. Monyet pertama banyak mengalami gangguan kejiwaan. Ia takut pada orang-orang asing yang mendekatinya. Ia nervous dan sangat rentan terhadap berbagai penyakit. Gerak tubuhnya sangat terhambat. Monyet yang paling sehat adalah monyet yang ketiga, yang mendapat perhatian cukup dari ibunya. Ia tampak percaya diri, tumbuh lebih sehat, dan memiliki kekebalan terhadap penyakit.

Walaupun penelitian ini dilakukan hanya pada monyet, para saintis menemukan bukti-bukti yang sama pada manusia. Anak manusia yang kurang mendapat perhatian ibu pada tahap perkembangan awal, banyak merusak anak itu secara intelektual, emosional, social bahkan juga fisik. Berbagai penelitian membuktikan bahwa terpisahnya anak dari ibu telah menyebabkan anak mengalami hambatan pertumbuhan intelektualnya, terhambat perkembangan pada hampir seluruh otaknya, rapuh pertahanan mentalnya, juga fisiknya. Karena itu Islam memandang posisi keibuan wanita sebagai posisi paling penting. Kepada rahim kaum wanitalah, Allah menitipkan janin yang lembut dan lemah di saat-saat pengembangannya. Walaupun ayah dan ibu menyubangkan bagian yang sama dalam pembentukan nucleus ovum, namun ibu memberikan semua protoplasma yang mengelilingi nucleus.

Kedua, peran ibu sebagai madrasah ruhaniah. Selain sebagai ibu, peran wanita yang juga amat penting adalah menjadi madrasah ruhaniah bagi anak-anaknya. Di hadapan anak-anaknya, ibu dituntut menjalankan tugas para nabi sebagai uswatun khasanah – suri teladan yang baik. Suatu saat, seorang perempuan datang membawa anak perempuannya menemuai Aisyah. Ia bermaksud meminta makanan. Namun, saat itu Aisyah tidak memiliki apa-apa kecuali dua butir kurma. Aisyah lalu menyerahkan kedua butir kurma yang dimilikinya kepada perempuan itu. Ia lantas memberikannya kepada anaknya masing-msing satu. Ibu itu tidak makan apa-apa. Aisyah terharu menyaksikan peristiwa itu. Ia lalu menceritakannya kepada Nabi Saw. Beliau bersabda, “Barang siapa diuji oleh anak perempuannya, kemudian ia berbuat baik kepada anak perempuan itu, mendidiknya baik-baik, maka anak perempuan itu akan menjadi penghalang dari siksa api neraka”.

Rasulullah memerintahkan setiap ibu untuk memperhatikan anak perempuannya. Sampai beliau bersabda, “Kalau kamu mengistimewakan akan-anakmu, maka istemewakanlah anak perempuanmu”. Rasulullah, dengan demikian, menjadikan ibu memikul amanah kenabian dan tugas kerasulan. Bukankah Rasulullah datang di saat bangsa Arab dalam keadaan jahiliah: saat dimana praktek mengubur anak perempuan hidup-hidup tanpa alasan sebagai kewajiban? Al-Quran merekam perilaku jahiliah ini dalam peringatan abadi, “apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup itu ditanya; karena dosa apakah dia dibunuh” (QS. 81:8-9). Rasulullah mengakhiri praktek-praktek ini, dan sekaligus melakukan usaha emansipasi yang pertama dalam sejarah. Saya berpendapat, tugas inilah yang wajib dimiliki oleh setiap ibu untuk menciptakan kader ibu yang baik. Namun sebelumnya, seorang ibu mesti meningkatkan pengetahuannya, mendidik diri sebaik-baiknya, mempersiapkan diri untuk menjadi ibu yang di bawah telapak kakinya ada surga. Rasulullah bersabda, “Didiklah anakmu 25 tahun sebelum dia lahir”. Karena itu, pada tahap sebagai seorang anak, yang pertama dilakukan ialah mempersiapkan dan mendidik diri. Inilah salah satu tugas berat kaum ibu di manapun mereka berada.

Sebuah hadis menyatakan, “Setiap anak yang lahir memiliki kepercayaan kepada Tuhan, tapi orang tuanyalah yang menjadikan dia Yahudi, Nasrani dan Majusi”. Karena itu, ilmu mengurus anak wajib dimiliki oleh setiap wanita. Sigmund Freud pernah berkata, “My mother si my maker” – ibuku adalah pembuat diriku. Bagi Freud, ibu akan menentukan jenis manusia apa yang akan dilahirkan oleh masyarakat di kemudian hari. Seorang penyair Inggris berkata, “Pada tangan yang mengayun ambing buaian itu, ada tangan yang mengguncang dunia”. Dalam berbagai hadis ditekankan bahwa memelihara anak adalah amal saleh yang besar. Itulah sebabnya, walaupun Islam mengizinkan wanita bekerja di masyarakat sesuai dengan keperluannya, namun Islam memandang kehadirannya di rumah adalah yang paling penting dari segalanya. Benar, bahwa sepanjang sejarah kenabian dan kerasulan tidak satu pun perempuan yang menjadi nabi atau rasul. Tetapi harus diingat bahwa para nabi dan rasul merupakan wisudawan yang keluar dari madrasah yang guru dan kepala sekolahnya adalah perempuan. Tanpa perempuan, nabi dan rasul tidak akan pernah tercipta. Karena itu, problem dilematis yang dihadapi perempuan modern terkait dengan fungsinya sebagai ibu yang telah merampas kebebasannya tidak dapat diterima selain memandang rendah fungsi keibuan sebagai alasannya.

Kebebasan yang ingin diraihnya telah melemparkannya ke dalam persaingan hidup yang berat. Bersama-sama pria, mereka berlomba mengejar karir dan kedudukan. Bersamaan dengan itu, masuklah “ideologi” yang memandang rendah apa yang dahulu dilakukan ibu-ibu sebagai amal saleh, apa yang dahulu menimbulkan perasaan harga diri dan kebahagiaan, sekarang dipandang sebagai paham yang kolot dan konserfatif. Mereka telah mencampakkan apa yang menjadi fitrahnya. Maka terjadilah berbagai deprivasi maternal secara sosial. Anak-anak yang berkembang dalam asuhan pembantu, harus belajar tentang dunia dengan caranya sendiri. Wiji Thukul, penyair besar, mengingatkan para ibu yang menyembah modernisme lewat puisinya akan jalan yang ditempuh seorang anak:

Ibu

jika kau menagih baktiku
itu sudah kupersembahkan ibu
waktu hidup tak kubiarkan beku
itulah tanda baktiku kepadamu

gula dan teh memang belum kuberikan
tetapi nilai hidup adakah di dalam nasi semata

apakah anak adalah tabungan
bisa sesuka hati dipecah kapan saja
apakah kelahiran cuma urusan untung dan laba
tumpukan budi yang harus dibayar segera

jalan mana harus ditempuh anak
jika bukan yang biasa dan sudah dipilih
oleh yang berjalan itu sendiri.[]



_______________________

Daftar Bacaan:

Amini, Ibrahim. 2006. Anakmu Amanat-Nya. Jakarta: Al-Huda.
____________. 2006. Agar Tak Salah Mendidik. Jakarta: Al-Huda.
Rakhmat, Jalaluddin. 1998. Catatan Kang Jalal; Visi Media, Politik dan Pendidikan. Bandung: Rosda.
_________________. 1999. Islam Alternatif; Ceramah-Ceramah di Kampus. Bandung: Mizan.
_________________. 2007. SQ For Kids; Mengembangkan Kecerdasan Spiritual Anak Sejak Dini. Bandung: Mizan.

Selasa, 19 April 2011

Untuk kau yang kelak ada di rahimku

Untuk kau yang kelak ada di rahimku...
Aku ingin bercerita padamu, bolehkah?
Setidaknya agar kau tak menyesal nantinya.
Kurasa kau akan mengkerutkan keningmu saat ini,
atau malah berjanji untuk menendang keras perutku kelak.

Percayalah, bukan karena aku tak menginginkanmu.
Tapi tak ingin kau sering menangis nantinya.

Dunia kini sedang kacau.
Kupikir masanya akan sangat panjang.
Lidah-lidah keserakahan menjalar di mana-mana.
Tangan-tangan penindas mencengkeram seluruh tanah.

Mungkin saat kau datang,
tak ada lagi ruang untukmu bermain.
Kau akan berpikir mengikat gawang bola di udara,
dan setelah itu menangis kecewa karena tersadar,
kau tak punya sayap.

Di sini...
Orang-orang kecil sulit bernapas,
padahal udara tak dijual.
Berhari-hari mereka puasa,
padahal ramadhan telah usai.

Percayalah, bukan karena aku tak menginginkanmu.
Tapi tak ingin kau hanya menambah sesak mereka.

Kecuali jika kau berjanji,
menebus langkah yang termakan zaman karena kelalaianku.
Merelakan tanganmu menjadi kepalan pelindung mereka yang kecil.


29102010. 10:50 Wita

Senin, 18 April 2011

Review Buku "Gadis Pemberontak'

Oleh : Andi Rara  A. Nuralam Amir

Penulis                : Nafisahaji
Penerbit              : Literati-books






Perjuangan seorang gadis muslim Indo-Pakistan melawan takdir di tanah rantau. Dialah Saira Qader putri dari seorang dokter dan ibu rumah tangga yang meninggalkan Pakistan dan merantau di New York ketika ayahnya menikah dengan ibunya. Saira mempunyai kakak perempuan, namanya Ameena. Sangat berbeda dengan kakaknya. Saira yang berperawakan agak liar, dan kakaknya yang kalem. Dari kecil Saira sudah melanggar batasan-batasan tradisi keluarganya, sebaliknya dengan Ameena yang begitu penurut menjalankan tradisi keluarga. Perbedaan ini juga membuat Ameena dianak-emaskan oleh neneknya, dan Saira oleh Kakak neneknya. Karakter-karakter mereka saya rasa mempengaruhi perawakan Ameena dan Saira kemudian. 

Buku ini dipenuhi dengan dinamika-dinamika keluarga Saira, baik dari pihak ibu maupun ayahnya. Di bab-bab awal buku ini menceritakan tentang kehidupan Saira dan keluarga dari pihak ibunya. Ibunya sangat membatasi pergaulan Saira, melarang saira memakai pakaian pendek, mengikuti pementasan drama di sekolah—karena menurut Ibunya, drama di sekolahnya itu merupakan hal yang memalukan bagi keluarganya—kemudian melarang Saira untuk pergi berdansa ketika ada acara pesta dansa di sekolahnya. Ibunya trauma karena ketika Ayahnya—kakek Saira—usahanya melejit di masa Partisi India dan pakistan, dimana budaya-budaya Barat masuk ke Pakistan dan terpengaruh akan hal-hal itu. Pergi dansa di klub-klub malam, memaksa istrinya untuk bergaya ala Eropa, membeli barang-barang ber-merk dan tidak lagi sedermawan dahulu. Tragisnya ia meninggalkan istrinya dan menikah dengan gadis hippie di London ketika menunggu kelahiran cucu pertamanya yang ditemuinya di Speaker’s Corner di Hyde Park yang pada saat itu terjadi aksi bakar-bakar bra oleh para feminis (sesuatu yg berhubungan dengan perbudakan secara patriarkat dan rekannya dalam kejahatan kapitalisme). Keluarga Saira menyalahkan budaya barat akan kejadian ini.

Beberapa bab berikutnya mengenai keluarga dari ayah Saira. Struktur keluarganya rumit. Kakeknya, Roshan Qader, memiliki 3 istri, seorang aktivis yang melawan penindasan di masa penjajahan Inggris pada saat itu di India. Dia rela meninggalkan istri-istri dan anak kesayangannya karena dia menganggap gerakan ini adalah sebuah keharusan baginya. Perbuatan baik ini kemudian turun pada salah satu sepupu kembar Saira, Mohzin. Mohzin memutuskan untuk meneruskan perjuangan kakeknya setelah membaca buku harian serta surat-surat dari kakeknya yang seharusnya diwariskan untuk kedua anaknya yang masih hidup, yakni ayah Saira dan ayah Mohzin, tetapi mereka memutuskan untuk mencari ilmu dan melanjutkan hidup di London dan New York. Mereka juga menganggap perjuangan kakeknya itu bukan hal yang berarti. Mereka juga telah terkontaminasi oleh budaya-budaya Barat dimana mereka menetap. Mohzin ternyata gay, :D
Beranjak kuliah, Saira memulai pemberontakan besarnya. Dia melanggar segala larangan ibunya. Dia mulai menyentuh minuman keras, ganja, dan freesex. Dia juga tak ingin menikah, memberontak atas pernyataan ibunya yang seolah-olah menganggap bahwa pernikahan itu adalah sumber kebahagiaan suatu keluarga. Kakak neneknya--yang notabenenya memang ia jadikan sebagai gurunya--yang perawan tua membuatnya semakin tak berpikir untuk menikah.

Selesai kuliah, setelah sekian lama meninggalkan kelurganya, Saira bersama Mohzin ‘menjadi saksi’ atas apa yang terjadi. Saira menjadi seorang jurnalis, dan Mohzin sebagai fotografer handal yg menemaninya dalam meliput segala bentuk penindasan di mana saja. Sudah banyak karya-karya yang mereka terbitkan. Sebelum itu ia menjalin hubungan singkat dengan murid kakak neneknya yang juga seorang jurnalis dan membuahkan seorang anak yang ingin dia aborsi namun atas paksaan Ameena, akhirnya ia mau melahirkan anaknya dan kemudian diadopsi oleh Ameena yang bertahun-tahun pernikahannya belum mempunyai anak.
Sepeninggal Saira sebagai jurnalis, keadaan keluarganya jadi semakin rumit. Ibunya kemudian sakit-sakitan dan meninggal, Ameena menyusul ibunya, ditembak karena mengenakan jilbab ketika teroris Islam menyerang WTC (World Trade Centre) di New York. Ayahnya menikah lagi dengan seorang dokter di India, kakak neneknya kemudian menyusul ibunya dan Ameena. Semenjak kematian Ameena, keluarga-keluarganya kemudian menyarankan Saira menjadi pengganti Ameena sebagai Ibu bagi anaknya sendiri. Sakina, anak kakaknya yang masih berumur 6 tahun butuh seorang figur ibu. Saira merasa terluka atas sikap Sakina yang tampaknya menolak kehadirannya, menambah rasa bersalahnya atas segala kerumitan keluarganya yang ia anggap dirinya sebagai biang kerok dari pembangkangannya selama ini. Saira galau, masih tertanam duka dihari-harinya. Namun kemudian Sakina membuka diri padanya, saat itu Saira berjanji dia takkan lagi melepaskan Sakina.

Pandangan Al-Qur'an tentang Kejadian Perempuan


Oleh : Ulhu Fiahun
 
Salah satu Ayat  Al-Quran  yang   populer    menjadi rujukan   dalam pembicaraan  tentang  asal  kejadian perempuan adalah firman Allah dalam surat An-Nisa, ayat 1:

"Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan  kamu  dari  nafs  yang satu (sama), dan darinya Allah  menciptakan  pasangannya,  dan  dari  keduanya  Allah memperkembang-biakkan lelaki dan perempuan yang banyak."

Banyak  sekali  pakar  tafsir yang memahami kata nafs dengan Adam, seperti misalnya Jalaluddin As-Suyuthi,  Ibnu  Katsir, Al-Qurthubi,  Al-Biqa'i, Abu As-Su'ud, dan lain-lain. Bahkan At-Tabarsi, salah  seorang  ulama  tafsir  bermazhab  Syi'ah (abad  ke-6  H)  mengemukakan  dalam tafsirnya bahwa seluruh ulama tafsir sepakat mengartikan kata tersebut dengan Adam.

Dari pandangan yang  berpendapat  bahwa  nafs  adalah  Adam, dipahami  pula  bahwa  kata  zaujaha,  yang  arti harfiahnya adalah "pasangannya," mengacu kepada istri Adam, yaitu Hawa. Agaknya  karena  ayat  diatas  menerangkan  bahwa   pasangan tersebut  diciptakan  dari  nafs  yang  berarti  Adam,  para penafsir terdahulu memahami  bahwa  istri  Adam  (perempuan) diciptakan   dari  Adam  sendiri.  Pandangan  ini,  kemudian melahirkan  pandangan  negatif  terhadap  perempuan,  dengan menyatakan  bahwa perempuan adalah bagian dari lelaki. Tanpa lelaki, perempuan tidak  akan  ada.  Al-Qurthubi,  misalnya, menekankan bahwa istri Adam itu diciptakan dari tulang rusuk Adam sebelah kiri  yang  bengkok,  dan  karena  itu  "wanita bersifat 'auja' (bengkok atau tidak lurus)."

Ath-Thabathaba'i dalam tafsirnya menulis, bahwa ayat  diatas menegaskan  bahwa  "perempuan  (istri  Adam) diciptakan dari jenis yang sama dengan Adam, dan ayat tersebut  sedikit  pun tidak  mendukung  paham  sementara  mufasir yang beranggapan bahwa perempuan diciptakan  dari  tulung  rusuk  Adam.  Kita dapat berkata, bahwa tidak ada satu petunjuk yang pasti dari ayat Al-Quran yang dapat mengantarkan kita untuk  menyatakan bahwa  perempuan  diciptakan  dari  tulang rusuk, atau bahwa unsur penciptaannya berbeda dengan lelaki. Ide ini,  seperti ditulis  Rasyid  Ridha dalam Tafsir Al-Manar-nya, timbul dan ide yang  termaktub  dalam  Perjanjian  Lama  (Kejadian  II: 21-22)  yang  menyatakan bahwa ketika Adam tidur lelap, maka diambil   oleh   Allah   sebilah   tulang   rusuknya,   lalu ditutupkannya  pula  tempat  itu  dengan  daging.  Maka dari tulang yang telah dikeluarkan dan  Adam  itu,  dibuat  Tuhan seorang perempuan.

Bahkan kita dapat berkata bahwa sekian banyak teks keagamaan mendukung pendapat yang menekankan persamaan unsur  kejadian Adam dan Hawa, dan persamaan kedudukannya, antara lain surat Al-Isra' ayat 70,

"Sesungguhnya Kami telah  memuliakan  anak-anak  Adam,  Kami angkut  mereka  di  daratan  dan di lautan (untuk memudahkan mereka mencari kehidupan).  Kami  beri  mereka  rezeki  yang baik-baik,  dan  Kami  lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempuma atas kebanyakan makhluk-makhluk yang Kami ciptakan."

Tentu, kalimat anak-anak Adam mencakup lelaki dan perempuan, Demikian  pula penghorrnatan  Tuhan  yang diberikan-Nya itu mencakup anak-anak Adam seluruhnya,  baik  perempuan  maupun lelaki.  Pemahaman  ini dipertegas oleh surat Ali-Imran ayat 195 yang menyatakan, "Sebagian kamu adalah bagian dari sebagian yang lain ..."

Ini dalam arti bahwa sebagian kamu (hai  umat  manusia  yang berjenis  lelaki)  berasal dari pertemuan ovum perempuan dan sperma lelaki dan sebagian yang lain (hai umat manusia  yang berjenis   perempuan) demikian  juga  halnya. Kedua  jenis kelamin ini  sama-sama  manusia,  dan  tidak  ada  perbedaan diantara mereka    dari segi asal kejadian serta kemanusiaannya.

Dengan konsiderans ini, Tuhan menegaskan bahwa:

“Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang  yang beramal,  baik  lelaki  maupun
 perempuan”. (QS Ali 'Imran [3]: 195)

Ayat ini dan semacamnya adalah usaha Al-Quran untuk mengikis habis   segala   pandangan  yang  membedakan lelaki  dengan perempuan, khususnya dalam bidang kemanusiaan.

Dalam  konteks  pembicaraan  tentang  asal   kejadian   ini, sementara  ulama  menyinggung  bahwa seandainya bukan karena Hawa, niscaya kita tetap akan berada di surga. Disini sekali lagi ditemukan semacam upaya mempersalahkan perempuan. Pandangan semacam itu jelas sekali keliru, bukan saja karena sejak semula  Allah  telah  menyampaikan  rencana-Nya untuk menugaskan  manusia  sebagai  khalifah  di  bumi (QS 2: 30), tetapi juga karena dari ayat-ayat Al-Quran ditemukan  bahwa godaan  dan  rayuan  Iblis  itu  tidak  hanya tertuju kepada perempuan (Hawa) tetapi juga kepada lelaki. 

Ayat-ayat  yang membicarakan  godaan,  rayuan  setan,  serta ketergelinciran Adam dan Hawa diungkapkan dalam bentuk kata yang menunjukkan kesamaan keduanya tanpa perbedaan, seperti,

Maka  setan  membisikkan pikiran jahat kepada keduanya... (QS, Al-A'raf [7]: 20).

Lalu keduanya digelincirkan oleh setan dan  surga  itu,  dan keduanya  dikeluarkan  dari  keadaan yang  mereka (nikmati) sebelumnya... (QS Al-Baqarah [2]: 36).

Kalaupun ada ayat yang membicarakan godaan atau rayuan setan berbentuk tunggal, maka ayat itu justru menunjuk kepada kaum lelaki (Adam),  yang  bertindak  sebagai  pemimpin  terhadap istrinya, seperti dalam firman Allah, Kemudian  setan membisikkan pikiran jahat kepadanya (Adam), dan berkata,  

"Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepadamu pohon khuldi  dan kerajaan yang tidak akan punah?" (QS Thaha [20]: 120).

Demikian terlihat Al-Quran mendudukkan perempuan pada tempat yang sewajarnya, serta meluruskan segala pandangan salah dan keliru yang berkaitan dengan  kedudukan  dan  asal  kejadian kaum perempuan.
Rujukan dari Dr. M. Quraish Shihab (Membumikan Al-Qur’an)

MEMBUMIKAN AL-QURAN
Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat
Dr. M. Quraish Shihab
Penerbit Mizan, Cetakan 13, Rajab 1417/November 1996
Jln. Yodkali 16, Bandung 40124
Telp. (022) 700931 - Fax. (022) 707038
mailto:mizan@ibm.net