“Kalau hanya karena adanya darah
bangsawan mengalir dalam tubuhku sehingga saya harus meninggalkan partaiku dan
berhenti melakukan gerakanku, irislah dadaku dan keluarkanlah darah bangsawan
itu dari dalam tubuhku, supaya datu dan hadat tidak terhina kalau saya
diperlakukan tidak sepantasnya.” (Opu Daeng Risaju, Ketua PSII Palopo 1930)
Itulah penggalan kalimat yang diucapkan
Opu Daeng Risaju, seorang tokoh pejuang perempuan yang menjadi pelopor gerakan
Partai Sarikat Islam yang menentang kolonialisme Belanda waktu itu. Ketika Datu
Luwu Andi Kambo membujuknya untuk meninggalkan partainya. Namun Opu Daeng Risaju
rela menanggalkan gelar kebangsawanannya serta harus dijebloskan kedalam
penjara selama 3 bulan oleh Belanda dan harus bercerai dengan suaminya yang
tidak bisa menerima aktivitasnya. Semangat perlawanannya untuk melihat
rakyatnya keluar dari cengkraman penjajahan membuat dia rela mengorbankan
dirinya.
Perempuan fenomenal ini, memiliki nama
kecil Famajjah. Ia dilahirkan di Palopo pada tahun 1880. Ia hasil perkawinan
antara Opu Daeng Mawelu dengan Muhammad Abdullah To Bareseng. Menurut silsilah
keturunan Opu Daeng Risaju, dapat dikatakan bahwa ia berasal dari keturunan
raja-raja Tellumpoccoe Maraja, yaitu: Gowa, Bone dan Luwu. (Muh. Arfah &
Muh. Amir: Biografi Pahlawan: Opu daeng Risaju, hal 39).
Fammajah adalah gadis hitam manis yang
lincah dan berwajah serius. Ia banyak mengisi masa kecilnya dengan menamatkan
Al-Quran, mempelajari fiqih dari buku yang ditulis tangan sendiri oleh Khatib
Sulaiman Datuk Patimang atas bimbingan seorang ulama dan beberapa orang guru
agama. Selain itu ia mempelajari nahwu, syara dan balaqhah yang merupakan dasar
bagi pengkajian ilmu-ilmu agama yang lebih tinggi. Pengetahuan tentang baca
tulis huruf Latin berkat ketekunannya sendiri. Lain halnya dengan tokoh-tokoh
pelopor wanita lainnya seperti Raden Ajeng Kartini, Dewi Sartika dan lain-lain
yang setidaknya mempunyai pendidikan formal tingkat menengah. Opu Daeng Risaju
tidak pernah diasuh di bangku sekolah atau belajar secara formal dari
pendidikan buatan Hindia Belanda.
Opu Daeng Risaju dan teman-temannya mempermaklumatkan
berdirinya PSII Cabang Palopo dalam suatu rapat umum. Opu Daeng Risaju sendiri
bertindak sebagai ketua, dibantu sekretaris Achmad Cambang dan bendahara
Mudhan. Hal ini tentu saja menggelisahkan para pejabat Belanda dan
pembesar-pembesar kerajaan, termasuk raja Luwu sendiri. Mereka khawatir karena
PSII ketika itu telah mengambil kebijaksanan yang bersifat noncooperatif dengan pemerintah. Apa yang mereka khawatirkan itu
memang terbukti dikemudian hari. Opu Daeng Risaju bersama dengan teman-temannya
menempuh pula kebijaksanaan noncooperatif
dengan penguasa Belanda dan bahkan dengan penguasa kerajaan. Sikap noncooperatifnya inilah yang pada
akhirnya menjebloskannya ke dalam penjara Belanda.
Opu Daeng Risaju adalah seorang
perempuan Bugis yang meletakkan makna konsistensi perjuangan dalam dirinya. Opu
Daeng Risaju adalah seorang social agency
(agen perubahan social), menurut Lyod (1999:93-95), dalam satu masyarakat
selalu terdapat apa yang disebut sebagai social
agency, yakni ”individu” atau ”kelompok” otonomis yang berada dan menjadi
bagian masyarakat tetapi mempunyai power,
authority, dan kharisma untuk bertindak sebagai ”aktor” yang mengatur dan
mengendalikan perubahan yang terjadi dalam masyarakat. Besar kecilnya authority yang dimilikinya, tergantung
pada kemampuan masing-masing. Besar kecilnya power yang mereka miliki tergantung pada kedudukannya dalam
struktur sosial, baik formal maupun non formal. Adapun kharisma yang dimiliki social agency tentu biasanya bersifat irasional,
namun selalu juga terkait dengan authority
dan power. Makin tinggi posisi
dan kedudukan seseorang dalam struktur, makin tinggi pula authority, power, dan kharismanya.
Opu Daeng Risaju adalah potret nyata
eksistensi perempuan Sulawesi Selatan dalam menggerakkan realitas sosial
masyarakatnya justru ketika bangsa ini masih berada dalam cengkraman penjajahan
Belanda. Ia begitu teguh dengan keyakinannya seolah mengingatkan kita pada pada
Joan D Ard, perempuan Prancis yang memimpin peperangan dalam melawan Inggris
pada abad pertengahan. Opu Daeng Risaju adalah potret nilai konsistensi manusia
dalam memperjuangan rakyat yang masih memiliki relevansi dengan kondisi
kekinian. Juga refleksi bagi tokoh-tokoh agama hari ini untuk lebih
memposisikan diri di barisan terdepan dalam membela kepentingan ummat agar
bebas dari pembodohan, kemiskinan, dan kezaliman.
0 komentar:
Posting Komentar