Manusia adalah mahluk jasmaniah sekaligus makhluk ruhaniah.
Karena itu, dalam dirinya ada potensi untuk berhubungan dengan dunia material
dan dunia spiritual. Manusia adalah “radio dua band” yang mampu
menangkap gelombang panjang dan gelombang pendek. Ia mampu menangkap
hukum-hukum alam di balik gejala-gejala fisik yang diamatinya. Selain itu,
manusia juga mampu menyadap isyarat-isyarat gaib dari alam yang lebih luas
lagi. Bila satu potensi dikembangkan luar biasa sedangkan potensi yang lain
dimatikan, manusia akan menjadi mahluk yang bermata satu.
Kebahagiaan,
ketentraman, keindahan, kesucian, keadilan, dan keharuan adalah gejala-gejala
ruhaniah yang dimiliki manusia. Gejala-gejala ini tidak bisa dimiliki bila
potensi ruhaniah dimatikan. Jadi ruh mampu mempengaruhi jasmani, tapi jasmani
tidak akan mampu mempengaruhi ruh. Atau dalam pengertian lain, bahwa non
materi dapat mempengaruhi yang non materi dan yang materi.
Makanan
adalah salah satu kebutuhan manusia yang bersifat jasmaniah. Jika kita melihat
dari sisi materi makanan seperti apa yang dimakan (manis atau pahit; bergizi
atau tidak), berapa kali kita makan dalam sehari, dan lain-lain. Semuanya itu
akan mempengaruhi jasmani kita, seperti gemuk atau kurus, tinggi atau pendek,
kebersihan kulit, dll. Tapi jika kita melihat dari sisi non materinya, seperti
kehalalannya, apakah menyebut nama Allah pada saat pengelolaannya, apakah kita
makan diawali dengan basmalah dan diakhiri dengan hamdalah, maka akan
mempengaruhi ruhaniah manusia sekaligus jasmaniah manusia.
Misalnya,
ada buah Apel. Bagaimanapun manisnya apel tersebut, tapi apabila tidak halal
maka kita akan selalu was-was untuk memakannya. Sehingga bila kita memakannya,
maka mengunyah akan cepat-cepat, ditempat yang tersembunyi, perasaan tidak
tenang atau gelisah. Apabila kita makan dalam kondisi demikian, maka banyak
kemungkinan yang akan terjadi pada jasmani kita. Makanan tidak akan hancur
dengan sempurna bila dikunyah dengan cepat, sehingga bisa menyumbat tenggorokan
dan akibat kecilnya akan tersedak atau bila parah akan menyumbat saluran
pernapasan yang dapat mengakibatkan kematian. Perasaan yang gelisah akan
meningkatkan adrenalin, kemudian orang tersebut akan mengalami ketakutan yang
bisa memicu stres, jantung berdebar-debar, tekanan darah meningkat (hipertensi)
dan jika terus terulang akan mengalami stroke dan mati.
Bila
makanan tersebut manis atau pahit, maka yang terlihat efeknya hanyalah
kesanggupan memakan makanan tersebut atau tidak. Kalau pun dipaksaan maka akan
terlihat reaksi mengerut pada wajahnya.
Sebenarnya
yang dapat mempengaruhi ruh kita adalah sesuatu yang bersifat ruh juga atau
biasa disebut dengan non materi. Hanya saja ada sebagian manusia yang makan
secara berlebihan yang tidak mengikuti sunnah Rasul. Seperti makan sampai
kekenyangan, sehingga sulit bernapas dan susah bergerak, akhirnya mengantuk dan
tidur. Padahal Rasul sangat melarang orang yang tidur dalam keadaan
kekenyangan. Akhirnya tidak bisa melaksanakan sholat malam, mengaji bahkan
mungkin masih tidur pada saat waktu sholat subuh tiba.
Bila
kita lebih spesifikkan pada perempuan dan hubungan spiritual atau non materi
ini dengan kesehatan, kita bisa melihat pada saat perempuan mengalami
menstruasi. Kenapa pada saat menstruasi perempuan tidak boleh puasa dan sholat?
Saat perempuan sedang mengalami menstruasi, dibutuhkan banyak istirahat
serta makanan yang bergizi, bahkan diupayakan makan 3 hingga 4 kali dalam
sehari dengan gizi yang seimbang. Selain itu, perempuan tidak bisa melakukan
sebagian gerakan-gerakan dalam sholat (seperti rukuk, sujud, dan duduk), karena
gerakan ini akan menekan rahim yang sedang dalam kondisi terluka.
Sementara berdiri terlalu lama akan menambah rasa sakit atau nyeri pada saat
haid. Sungguh Allah telah memperhitungkan semuanya untuk kebaikan
hamba-hambanya.
Bagi
perempuan yang sedang mengandung (hamil), sholat merupakan hal yang sangat
penting bagi perkembangan janin. Karena gerakan–gerakan sholat terutama gerakan
sujud sangat membantu proses rotasi janin, agar ketika tiba memasuki usia
kandungan 9 bulan kepala janin berada pada mulut rahim. Mendengarkan
suara mengaji pada janin melalui dinding perut ibu akan memberikan suasana
nyaman pada janin dan tentunya juga pada ibunya. Seperti dalam penelitian
Masuro Emoto, tentang cara air membentuk kristal-kristal yang indah
ketika disentuhkan dengan hal-hal yang baik, kesucian, keikhlasan, kedamaian,
rasa syukur serta terima kasih dan kemudian air itu diminum, maka sudah
pastilah akan memberikan kesegaran dan kesehatan bagi siapa saja yang
meminumnya dan tentunya terdapat nilai non materi padanya. Apalagi jika air itu
diisi dengan berbagai doa.
0 komentar:
Posting Komentar