Senin, 22 Oktober 2012

HIDUP BERSAMA LUPUS

Lupus adalah penyakit yang muncul akibat kelainan fungsi sistem kekebalan tubuh. Pada tubuh manusia terdapat antibodi yang berfungsi menyerang sumber penyakit yang akan masuk ke dalam tubuh. Pada penyakit ini, antibodi yang terbentuk muncul berlebihan dan justru menyerang sel – sel jaringan organ tubuh yang sehat. Sehingga mengakibatkan kekebalan tubuh menurun, dan tubuh menjadi rentan terhadap penyakit. Lupus merupakan salah satu penyakit yang belum bisa disembuhkan hingga saat ini.

Hormon estrogen yang berlebih merupakan salah satu dari penyebab munculnya penyakit Lupus. Sehingga sembilan dari sepuluh Odapus (orang penderita Lupus – sebutan untuk pengidap penyakit Lupus) adalah perempuan yang pada umumnya berada pada usia reproduksi. Di Indonesia sendiri belum diketahui jumlah pasti perempuan yang mengidap penyakit Lupus.

Tiara Savitri – 44 tahun dan Sinta Ridwan,- 26 tahun, adalah dua dari perempuan Odapus di Indonesia yang tidak menjadikan Lupus sebagai penghalang untuk berkarya.

Tiara Savitri telah mengidap penyakit Lupus sejak tahun 1987. Di tahun 80-an informasi dan pengetahuan tentang penyakit ini masih sangat minim. Lupus sering disebut sebagai penyakit seribu wajah karena gejala yang muncul mirip dengan penyakit lain. Hal ini pula yang dialami oleh Tiara, di awal perjumpaannya dengan Lupus. Selama 9 bulan dirawat di rumah sakit, barulah pada bulan kedelapan diketahui bahwa penyakit yang sebenarnya diidap oleh Tiara adalah Lupus. Berdasar dari pengalamannya, Tiara memutuskan untuk mendirikan sebuah yayasan pada tahun 1998. Yayasan yang diberi nama Yayasan Lupus Indonesia, bertujuan untuk memberikan informasi kepada masyarakat luas tentang bagaimana penyakit Lupus itu sebenarnya, serta membantu Odapus lainnya dengan memberikan konseling dan motivasi agar mampu bertahan melawan Lupus. Kata putus asa tidak pernah ada dalam kamus hidup Tiara, bahkan setelah mengetahui bahwa anak semata wayangnya juga terkena penyakit yang sama dengannya. Saat ini Tiara bersama Yayasan Lupus Indonesia memperjuangkan pengobatan dan biaya rumah sakit agar lebih mudah dan murah bagi para Odapus.      

Sinta Ridwan telah berkawan dengan penyakit Lupus semenjak tujuh tahun lalu. Gadis yang kini berusia 27 tahun itu, di tengah – tengah keterbatasan fisiknya telah menamatkan kuliah S2 di jurusan Filologi (jurusan yang mempelajari naskah-naskah manuskrip zaman kuno) Universitas Padjadjaran Bandung. Lupus tidak menghalangi cita – cita Sinta untuk memberikan manfaat bagi orang – orang yang berada disekitarnya. Hal ini diwujudkannya dengan membuka kelas nonformal dan menjadi pengajar aksara kuno di Bandung. Kelas yang didirikannya bertujuan untuk menjaga dan melestarikan naskah - naskah kuno yang merupakan warisan masa lalu. Langkah Sinta, tidak hanya berhenti di ruang kelas, mendirikan museum digital adalah mimpi yang selanjutnya ingin ia wujudkan.  Semangat yang besar, hal itulah yang tidak pernah hilang dari Sinta. Gadis yang sangat cinta dengan dunia sastra ini, juga telah menuangkan kisah perjalan hidupnya dalam menghadapi panyakit Lupus ke dalam sebuah buku berjudul “Bersahabat Dengan Kematian”.

Hidup bersama Lupus, tidak selalu buruk bagi mereka. Terdapat pandangan hidup yang sama dari kedua perempuan hebat ini, mereka menganggap bahwa pikiran positif, senyuman, dan berbagi kebahagiaan dengan orang lain merupakan obat terbaik untuk segala penyakit. Tiap dari kita pasti mempunyai masalah, yang menjadi perbedaan adalah bagaimana cara kita menghadapi masalah tersebut.

“Perjalanan hidup adalah sebuah proses dan kematian adalah final. Begitu pula kematian adalah jodoh yang pasti datang untuk mendampingi kita untuk melangkah ke kehidupan yang baru.” (Sinta Ridwan)


0 komentar:

Posting Komentar