Lupus adalah penyakit yang
muncul akibat kelainan fungsi sistem kekebalan tubuh. Pada tubuh manusia
terdapat antibodi yang berfungsi menyerang sumber penyakit yang akan masuk ke
dalam tubuh. Pada penyakit ini, antibodi yang terbentuk muncul berlebihan dan
justru menyerang sel – sel jaringan organ tubuh yang sehat. Sehingga
mengakibatkan kekebalan tubuh menurun, dan tubuh menjadi rentan terhadap
penyakit. Lupus merupakan salah satu penyakit yang belum bisa
disembuhkan hingga saat ini.
Hormon estrogen
yang berlebih merupakan salah satu dari penyebab munculnya penyakit Lupus. Sehingga
sembilan dari sepuluh Odapus (orang penderita Lupus – sebutan untuk pengidap
penyakit Lupus) adalah perempuan yang pada umumnya berada pada usia reproduksi.
Di Indonesia sendiri belum diketahui jumlah pasti perempuan yang mengidap
penyakit Lupus.
Tiara
Savitri – 44 tahun dan Sinta Ridwan,- 26 tahun, adalah dua dari perempuan Odapus di Indonesia
yang tidak menjadikan Lupus sebagai penghalang untuk berkarya.
Tiara Savitri telah mengidap
penyakit Lupus sejak tahun 1987. Di tahun 80-an
informasi dan pengetahuan tentang penyakit ini masih sangat minim. Lupus sering disebut
sebagai penyakit seribu wajah karena gejala yang muncul mirip dengan penyakit
lain. Hal ini pula yang dialami oleh Tiara, di awal perjumpaannya dengan Lupus.
Selama 9 bulan dirawat di rumah sakit, barulah pada bulan kedelapan
diketahui bahwa penyakit yang sebenarnya diidap oleh Tiara adalah Lupus.
Berdasar dari pengalamannya, Tiara memutuskan untuk mendirikan sebuah yayasan
pada tahun 1998. Yayasan yang diberi nama Yayasan Lupus Indonesia, bertujuan
untuk memberikan informasi kepada masyarakat luas tentang bagaimana penyakit Lupus
itu sebenarnya, serta membantu Odapus lainnya dengan memberikan konseling
dan motivasi agar mampu bertahan melawan Lupus. Kata putus
asa tidak pernah ada dalam kamus hidup Tiara, bahkan setelah mengetahui bahwa
anak semata wayangnya juga terkena penyakit yang sama dengannya. Saat ini Tiara
bersama Yayasan Lupus Indonesia memperjuangkan pengobatan dan biaya rumah sakit
agar lebih mudah dan murah bagi para Odapus.
Sinta
Ridwan telah berkawan dengan penyakit Lupus
semenjak tujuh tahun lalu. Gadis yang kini berusia
27 tahun itu, di tengah – tengah keterbatasan fisiknya telah menamatkan kuliah
S2 di jurusan Filologi (jurusan yang mempelajari naskah-naskah manuskrip zaman
kuno) Universitas Padjadjaran Bandung. Lupus tidak
menghalangi cita – cita Sinta untuk memberikan manfaat bagi orang – orang yang
berada disekitarnya. Hal ini diwujudkannya dengan membuka kelas nonformal dan
menjadi pengajar aksara kuno di Bandung. Kelas yang didirikannya bertujuan
untuk menjaga dan melestarikan naskah - naskah kuno yang merupakan warisan masa
lalu. Langkah Sinta, tidak hanya berhenti di ruang kelas, mendirikan museum
digital adalah mimpi yang selanjutnya ingin ia wujudkan. Semangat yang
besar, hal itulah yang tidak pernah hilang dari Sinta. Gadis yang sangat cinta
dengan dunia sastra ini, juga telah menuangkan kisah perjalan hidupnya dalam
menghadapi panyakit Lupus ke dalam sebuah buku berjudul “Bersahabat Dengan
Kematian”.
Hidup
bersama Lupus, tidak
selalu buruk bagi mereka. Terdapat pandangan hidup yang sama dari kedua
perempuan hebat ini, mereka menganggap bahwa pikiran positif, senyuman, dan
berbagi kebahagiaan dengan orang lain merupakan obat terbaik untuk segala
penyakit. Tiap dari kita pasti mempunyai masalah, yang menjadi perbedaan adalah
bagaimana cara kita menghadapi masalah tersebut.
“Perjalanan
hidup adalah sebuah proses dan kematian adalah final. Begitu pula kematian
adalah jodoh yang pasti datang untuk mendampingi kita untuk melangkah ke
kehidupan yang baru.” (Sinta Ridwan)
0 komentar:
Posting Komentar