Oleh: Almin Jawad
Fidhah Hindi adalah pembantu Fathimah Az-Zahra, putri Rasulullah saw.
Dia adalah seorang budak asal India yang menghabiskan usianya untuk berkhidmat
kepada Sayyidah Fathimah Az-Zahra. Untuk pengkhidmatannya Fidhah tidak meminta
upah sedikit pun. Ia hanya ingin melayani dan hidup bersama penghulu perempuan
sepanjang masa itu. Ia begitu mencintai Fathimah. Baginya, melayani belahan
jiwa Nabi itu adalah suatu anugrah khusus yang di karuniakan oleh Allah kepada
orang-orang yang dikehendaki-Nya. Karena pengkhidmatannya, Fathimah
mendoakannya agar kelak Fidhah tidak berbicara kecuali dengan Alquran. Dan
Fidhah dalam bahasa Arab berarti anugerah yang terucurah. Simaklah
kisahnya berikut ini:
Suatu hari, di padangan pasir Hijaz Fidhah tersesat. Seorang laki-laki menemukannya. Dilihatnya Fidhah tampak kebingungan. Ia mendekatinya. Laki-laki itu kemudain bertanya kepadanya, “siapakah anda?” Fidhah menjawabnya dengan Alquran, “wa qul salaamun fa saufa ya’lamun”; “Dan katakanlah salam kelak mereka akan mengetahui”, [Az-Zuhruf: 89]. Dari ayat itu, tahulah dia, bahwa dia harus mengucapkan salam terlebih dahulu. Lelaki itu pun mengucapkan salam. Lalu ia bertanya kembali, “apa yang anda lakukan di tempat ini sendirian? Apakah anda tersesat?” Fidhah menjawab, “man yahdillahu fa ma lahu min mudhilin”; “Dan barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak seorangpun yang dapat menyesatkannya”, [az-Zumar:37]. Tahulah bahwa perempuan itu lagi tersesat.
Suatu hari, di padangan pasir Hijaz Fidhah tersesat. Seorang laki-laki menemukannya. Dilihatnya Fidhah tampak kebingungan. Ia mendekatinya. Laki-laki itu kemudain bertanya kepadanya, “siapakah anda?” Fidhah menjawabnya dengan Alquran, “wa qul salaamun fa saufa ya’lamun”; “Dan katakanlah salam kelak mereka akan mengetahui”, [Az-Zuhruf: 89]. Dari ayat itu, tahulah dia, bahwa dia harus mengucapkan salam terlebih dahulu. Lelaki itu pun mengucapkan salam. Lalu ia bertanya kembali, “apa yang anda lakukan di tempat ini sendirian? Apakah anda tersesat?” Fidhah menjawab, “man yahdillahu fa ma lahu min mudhilin”; “Dan barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak seorangpun yang dapat menyesatkannya”, [az-Zumar:37]. Tahulah bahwa perempuan itu lagi tersesat.
Laki-laki itu
bertanya lagi, “anda berasal dari mana?” Fidhah menjawab, “yunaduuna min
makanin bi’aiidin”; “Mereka itu adalah (seperti) yang dipanggil dari tempat
yang jauh”, [Fushilat:44]. Maksudnya, ia berasal dari tempat jauh. Ia bertanya
lagi, “anda mau pergi kemana?” Fidhah menjawab, “walillahi ‘alannasi hijjul
baeti”; "Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu
(bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah”, [Ali-Imron: 97].
Tahulah bahwa ia bermaksud hendak pergi ke kota suci Mekkah.
Karena ingin tahu, dia bertanya lagi, “sudah berapa lama anda di perjalanan?” Ia menjawab, “tsalatsa layaalin sawiyya”; “Selama tiga malam dalam keadaan sehat”, [Maryam: 10]. Lalu laki-laki itu memberi makan kepadanya, seraya bertanya, “kenapa anda tidak berjalan cepat sehingga tidak tertinggal?” Fidhah menjawab, “la yukalifullahu nafsan illa wus’ahaa”; “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”, [al-Baqarah: 286]. Maksudnya, ia tidak mampu berjalan dengan cepat karena usianya yang telah lanjut.
Karena pertanyaannya selalu dijawab dengan Alquran, laki-laki itu takjub. Ia penasaran, apakah perempuan itu mampu menjawab seluruh pertanyaan dengan Alquran? Akhirnya dia mencari-cari pertanyaan yang kira-kira tidak ada jawabannya di dalam Alquran. Dia kemudian bertanya, “apakah anda ini janda atau bersuami?” Dan Fidhah pun menjawabnya dengan Alquran. Dia berkata, “laa tas-alu 'an asy ya-a in tubda lakum tasu'kum”; “Janganlah kamu menanyakan hal-hal yang jika diberitahukan kepadamu akan menyakiti hati kamu”, [Al-Maidah: 101]. Laki-laki itu kaget. Ia tak menyangka pertanyaannya dengan mudah dijawab dengan Alquran. Dia pun akhirnya membisu. Ia lalu mengantarkan Fidhah sampai bertemu dengan kafilahnya.
Karena ingin tahu, dia bertanya lagi, “sudah berapa lama anda di perjalanan?” Ia menjawab, “tsalatsa layaalin sawiyya”; “Selama tiga malam dalam keadaan sehat”, [Maryam: 10]. Lalu laki-laki itu memberi makan kepadanya, seraya bertanya, “kenapa anda tidak berjalan cepat sehingga tidak tertinggal?” Fidhah menjawab, “la yukalifullahu nafsan illa wus’ahaa”; “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”, [al-Baqarah: 286]. Maksudnya, ia tidak mampu berjalan dengan cepat karena usianya yang telah lanjut.
Karena pertanyaannya selalu dijawab dengan Alquran, laki-laki itu takjub. Ia penasaran, apakah perempuan itu mampu menjawab seluruh pertanyaan dengan Alquran? Akhirnya dia mencari-cari pertanyaan yang kira-kira tidak ada jawabannya di dalam Alquran. Dia kemudian bertanya, “apakah anda ini janda atau bersuami?” Dan Fidhah pun menjawabnya dengan Alquran. Dia berkata, “laa tas-alu 'an asy ya-a in tubda lakum tasu'kum”; “Janganlah kamu menanyakan hal-hal yang jika diberitahukan kepadamu akan menyakiti hati kamu”, [Al-Maidah: 101]. Laki-laki itu kaget. Ia tak menyangka pertanyaannya dengan mudah dijawab dengan Alquran. Dia pun akhirnya membisu. Ia lalu mengantarkan Fidhah sampai bertemu dengan kafilahnya.
Mendekati kemah rombongan
haji, lelaki itu bertanya kepadanya, “apakah di antara rombongan ini ada yang
anda kenal?” Fidhah menjawab, “ya Daud innaa ja’alnaaka khalifatan fil ardhi”;
“Hai Daud, Sesungguhnya kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi”,
[Shaad: 26]. “Ya Yahya khudi alkitaba”; “Hai Yahya, ambillah Al Kitab (Taurat)”,
[Maryam: 12]. “Ya Musa innii anaa Rabbuka”; “Hai Musa. Sesungguhnya Aku inilah
Tuhanmu”, [Thaha: 11-12].
Laki-laki itu pun
memahami maksud Fidhah bahwa nama-nama yang telah disebutkannya (Daud, Musa dan
Yahya) ialah orang-orang yang dikenalnya. Lantas laki-laki memanggil ketiga
orang tersebut. Tidak lama datanglah tiga orang laki-laki muda. Laki-laki itu
kembali menengok ke arah Fidhah seraya bertanya, “apakah hubungan mereka denganmu?”
Fidhah menjawab, “almaalu wa albanuunu zinatul hayaati dunya”; “Harta dan
anak-anak merupakan perhiasan dunia”, [Kahfi: 46]. Maksudnya, ketiga anak muda
tersebut ialah anak-anaknya.
Fidhah turun dari untanya. Ia meminta anak-anaknya agar menyediakan makanan untuk lelaki yang membantu mengantarkannya itu. Hidangan sudah disiapkan, Fidhah mempersilahkannya masuk. “Udkhul haa bisalaamin aminiyn”; “Masuklah ke dalam dengan sejahtera lagi aman”, [Al-Hijr: 46]. Dia lalu mempersilahkan tamunya untuk mencicipi makanan yang telah dihidangkannya dengan berkata, “kuluw wasrabu wa la tusrifuw innahu la yuhibbul musrifun”; “Makan dan minumlah kamu tapi jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”, [Al-A’raf:31].
Fidhah turun dari untanya. Ia meminta anak-anaknya agar menyediakan makanan untuk lelaki yang membantu mengantarkannya itu. Hidangan sudah disiapkan, Fidhah mempersilahkannya masuk. “Udkhul haa bisalaamin aminiyn”; “Masuklah ke dalam dengan sejahtera lagi aman”, [Al-Hijr: 46]. Dia lalu mempersilahkan tamunya untuk mencicipi makanan yang telah dihidangkannya dengan berkata, “kuluw wasrabu wa la tusrifuw innahu la yuhibbul musrifun”; “Makan dan minumlah kamu tapi jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”, [Al-A’raf:31].
Setelah makan, lelaki
itu mengucapkan terimakasih. Dan Fidhah sekali lagi menjawabnya dengan Alquran,
“innaullaha huwarrazzaqu dzul quwwatil matin”; “Sesungguhnya Allah Dialah Maha
Pemberi rezki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh”, [Az-Zariyat: 58].
Maksudnya, berterimakasihlah kepada Allah kerena Dia-lah pemberi karunia.
0 komentar:
Posting Komentar