Tanggal 8 Maret diperingati sebagai hari
perempuan di berbagai belahan dunia. Hari diperingatinya kebangkitan kaum
perempuan dalam memperjuangkan kesetaraan gender di berbagai bidang
penghidupan. Perayaan ini pertama kali diperingati pada awal abad ke-20 di
tengah derasnya gelombang industrialisasi dan ekspansi ekonomi yang menimbulkan
gelombang protes mengenai kondisi kerja perempuan. Pada 8 Maret 1857 di New
York City, kaum perempuan yang bekerja di pabrik pakaian dan tekstil mengadakan
protes atas kondisi kerja yang buruk
dengan gaji yang rendah.
Di Barat, Hari Perempuan Internasional
dirayakan sekitar tahun 1910-an dan 1920-an, kemudian menghilang. Perayaan ini
dihidupkan kembali dengan bangkitnya feminisme pada tahun 1960-an. Pada tahun
1975, PBB mulai mensponsori Hari Perempuan Internasional. Pada tahun 1975,
Lembaga PBB mulai mengubah peringatan Hari Wanita Sedunia untuk diperingati
setiap tahun pada 8 Maret. 2 tahun kemudian tepatnya pada bulan Desember 1977,
Rapat Umum PBB mengeluarkan sebuah resolusi yang merupakan penegasan resmi dari
PBB menjadikan 8 Maret untuk diperingati sebagai Hari Perempuan Sedunia.
Gerakan feminis di Barat muncul dengan beragam pandangan ekstrimnya mengenai
kesetaraan gender di berbagai bidang yang memicu masalah serius bagi perempuan.
Akibat pandangan ekstrim Feminisme inilah perempuan menghadapi krisis besar
dalam memainkan peran utamanya sebagai istri dan ibu demi mewujudkan tujuan
kesetaraan gender.
Demi mengejar kebebasan dan kesetaraan dengan
pria, perempuan di negara-negara Barat harus menanggung derita besar. Mereka
mengklaim bahwa persamaan hak antara perempuan dan laki-laki di seluruh sektor
merupakan cara terbaik untuk meningkatkan harkat dan martabat perempuan.
Laporan dari Komisi PBB urusan Penghapusan
Diskriminasi terhadap Perempuan (CEDAW) dalam laporannya tahun 2008 menjelaskan
bahwa perempuan Inggris menderita akibat diskriminasi di pasar kerja dan
kesenjangan gaji yang begitu timpang dengan laki-laki. Data statistik
menunjukkan bahwa gaji rata-rata seorang perempuan yang bekerja penuh sekitar
83% dari pendapatan pria.
UU AS dan negara-negara Eropa menyatakan
bahwa suami tidak diwajibkan untuk mengeluarkan nafkah bagi istrinya. Untuk
itu, ibu-ibu di Negara-negara tersebut harus membanting tulang untuk mencari
nafkah selain mengasuh anaknya. Sebuah penelitian yang dilakukan Pusat Riset
Perempuan Wellesley College di AS menunjukkan bahwa pendapatan perempuan sangat
kecil, sementara mereka harus menghadapi beratnya beban hidup. Tekanan itu
menyebabkan para ibu di AS dan Eropa mengalami gangguan mental, dan pada
sebagian kasus berujung penyiksaan dan pembunuhan anak.
Dua orang peneliti Barat, Ruth Sidel dan
William Gardner menegaskan bahwa 61% pelanggaran hak anak dilakukan oleh ibu,
dan 25% dilakukan oleh para ayah. Mereka dalam laporannya menegaskan bahwa
faktor pemicu utama pembunuhan anak yang dilakukan orang tua adalah ketiadaan
ketentraman dalam keluarga dan kondisi mental ibu yang labil. Kapitalisme Barat
menggunakan konsumerisme untuk melangsungkan pertumbuhan produksinya. Untuk
itu, setiap detik kehidupan kita dibombardir dengan konsumerisme, terutama
dilancarkan terhadap perempuan. Di sisi lain Kapitalisme menggunakan perempuan
sebagai alat propaganda untuk menarik pembeli sebanyak-banyaknya. Berdasarkan
laporan yang dikeluarkan CEDAW, Portugal merupakan negara yang paling banyak memanfaatkan
perempuan sebagai komoditas. Terkait hal ini, media massa Barat memainkan peran
besar dalam menampilkan sosok perempuan sebagai komoditas dan alat propoganda
Kapitalisme. Di tengah gegap gempita slogan kesetaraan gender.
Berbeda dengan model materialistik yang
ditawarkan Feminisme dalam memandang perempuan, Islam memiliki pandangan khusus
terhadap perempuan yang meletakkan kedudukannya pada posisi yang tinggi dan
mulia. Dalam pandangan agama ilahi, perempuan dari sisi dimensi kemanusiaannya
sama seperti lelaki, namun memiliki karakteristik khusus. Sejatinya, Islam
tidak menentang perempuan terlibat dalam aktivitas politik, sosial, budaya.
Agama Islam menentang terjadinya kepincangan antara dunia kerja dan pemasungan
potensinya di bidang sosial dan budaya.
0 komentar:
Posting Komentar